Monday, April 6, 2015

PERENCANAAN DAN PEMBERDAYAAN SDM DALAM TATANAN PELAYANAN KEPERAWATAN KRITIS

PERENCANAAN DAN PEMBERDAYAAN SDM 
DALAM TATANAN PELAYANAN KEPERAWATAN KRITIS
oleh
Ns. Nunung Nurhayati, S. Kep., M. Kep.
STIKep PPNI Jawa Barat

Pengertian Perencanaan Sumber Daya Manusia
Manajemen sumber daya manusia adalah suatu prosedur yang berkelanjutan yang bertujuan untuk memasok suatu organisasi atau perusahaan dengan orang-orang yang tepat untuk ditempatkan pada posisi dan jabatan yang tepat pada saat organisasi memerlukannya. Departemen Sumber Daya Manusia Memiliki Peran, Fungsi, Tugas dan Tanggung Jawab :
1.  Melakukan persiapan dan seleksi tenaga kerja / Preparation and selection
·    Persiapan
·    Rekrutmen tenaga kerja / Recruitment
·    Seleksi tenaga kerja / Selection
2.   Pengembangan dan evaluasi karyawan / Development and evaluation
3.   Memberikan kompensasi dan proteksi pada pegawai / Compensation and protection
Tujuan Perencanaan dan Pemberdayaan SDM
Syarat – syarat perencanaan SDM antara lain :
1.    Harus mengetahui secara jelas masalah yang akan direncanakannya.
2.    Harus mampu mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang SDM.
3.    Harus mempunyai pengalaman luas tentang job analysis, organisasi dan situasi persediaan SDM.
4.    Harus mampu membaca situasi SDM masa kini dan masa mendatang.
Mampu memperkirakan peningkatan SDM dan teknologi masa depan.
5.    Mengetahui secara luas peraturan dan kebijaksanaan perburuhan pemerintah.
Manfaat Perencanaan dan Pemberdayaan SDM
    Dengan perencaaan tenaga kerja diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat baik bagi perusahaan maupun bagi karyawan. Manfaat-manfaat tersebut antara lain:
1.    Organisasi dapat memanfaatkan sumber daya manusia yang ada secara lebih baik.
2.    Melalui perencanaan sumber daya manusia yang matang, efektifitas kerja juga dapat lebih ditingkatkan apabila sumber daya manusia yang ada telah sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
3.    Produktivitas dapat lebih ditingkatkan apabila memiliki data tentang pengetahuan, pekerjaan, pelatihan yang telah diikuti oleh sumber daya manusia..
4.    Perencanaan sumber daya manusia berkaitan dengan penentuan kebutuhan tenaga kerja di masa depan, baik dalam arti jumlah dan kualifikasinya untuk mengisi berbagai jabatan dan menyelengarakan berbagai aktivitas baru .
5.    Salah satu segi manajemen sumber daya manusia yang dewasa ini dirasakan semakin penting ialah penaganan informasi ketenagakerjaan.
6.    Seperti telah dimaklumi salah satu kegiatan pendahuluan dalam melakukan perencanaan termasuk perencanaan sumber daya manusia adalah penelitian.
7.    Rencana sumber daya manusia merupakan dasar bagi penyusunan program kerja bagi satuan kerja yang menangani sumber daya manusuia dalam perusahaan.
8.    Mengetahui pasar tenaga kerja.
9.    Acuan dalam menyusun program pengembangan sumber daya manusia.
Perencanaan sumber daya manusia dapat dijadikan sebagi salah satu sumbangan acuan, tetapi dapat pula berasal dari sumber lain.
       Proses perencanaan SDM
    Prosedur perencanaan SDM antara lain :
1.    Menetapkan secara jelas kualitas dan kuantitas SDM yang dibutuhkan.
2.    Mengumpulkan data dan informasi tentang SDM
3.    Mengelompokkan data dan informasi serta menganalisisnya.
4.    Menetapkan beberapa alternative. 
5.    Memilih yang terbaik dari alternative yang ada menjadi rencana.
       Pengembangan Staf
    Pengembangan staf di unit perawatan intensif merupakan faktor pendukung yang sangat penting bagi peningkatan kinerja individu. Pengembangan staf dapat dilaksanakan melalui :
1.    In-service education
2.    Pendidikan berkelanjutan melalui program sertifikasi
3.    Pendidikan lanjut melalui program pendidikan formal keperawatan spesialistik
    Klasifikasi Klien Berdasarkan Tingkat Ketergantungan
    Efektifitas    dan    efisiensi    ketenagaan    dalam    keperawatan    sangat ditunjang oleh pemberian  asuhan  keperawatan  yang  tepat  dan  kompetensi  perawat  yang  memadai. Dalam  menentukan  kebutuhan  tenaga  keperawatan  harus  memperhatikan  beberapa faktor yang terkait beban kerja perawat, diantaranya seperti berikut :
1.    Jumlah klien yang dirawat/hari/bulan/tahun dalam suatu unit
2.    Kondisi atau tingkat ketergantungan klien
3.    Rata-rata hari perawatan klien
4.    Pengukuran perawatan langsung dan tidak langsung
5.    Frekuensi tindakan yang dibutuhkan
6.    Rata-rata waktu keperawatan langsung dan tidak langsung
7.    Pemberian cuti
Menurut Douglas (1984, dalam  Swansburg & Swansburg, 1999) membagi klasifikasi klien berdasarkan tingkat ketergantungan klien dengan menggunakan standar sebagai berikut :
1.    Kategori I : self care/perawatan mandiri, memerlukan waktu 1-2 jam/hari
·    kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri
·    makanan dan minum dilakukan sendiri
·    ambulasi dengan pengawasan
·    observasi tanda-tanda vital setiap pergantian shift
·    pengobatan minimal dengan status psikologi stabil
·    perawatan luka sederhana.
2.    Kategori II : Intermediate care/perawatan partial, memerlukan waktu 3-4 jam/hari
·    kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu
·    observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam
·    ambulasi dibantu
·    pengobatan dengan injeksi
·    klien dengan kateter urin, pemasukan dan pengeluaran dicatat
·    klien dengan infus, dan klien dengan pleura pungsi.
3.    Kategori III : Total care/Intensif care, memerlukan waktu 5-6 jam/hari
·    semua kebutuhan klien dibantu
·    perubahan posisi setiap 2 jam dengan bantuan
·    observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam
·    makan dan minum melalui selang lambung
·    pengobatan intravena “perdrip”
·    dilakukan suction
·    gelisah / disorientasi
·    perawatan luka kompleks.
1. Metode Penugasan
    Prinsip  pemilihan  metode  penugasan  adalah  :  jumlah  tenaga,  kualifikasi  staf  dan klasifikasi  pasien.  Adapun jenis-jenis metode penugasan  yang berkembang saat  ini adalah dengan menggunakan metoda fungsional dan metoda perawatan tim.
    Tanggung Jawab Kepala Ruangan (Karu), Ketua Tim (Katim) dan Anggota Tim:
    Secara umum, masing kepala ruangan, ketua tim dan anggota tim memiliki tanggung jawab yang berbeda-beda, antara lain :
1.    Tanggung Jawab Karu :
·    Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf
·    Membantu staf menetapkan sasaran dari ruangan
·    Memberi kesempatan katim untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinandan managemen
·    Mengorientasikan tenaga baru
·    Menjadi narasumber bagi tim
·    Mendorong kemampuan staf  untuk menggunakan riset keperawatan
·     Menciptakan iklim komunikasi terbuka
2.    Tanggung Jawab Katim :
·    Melakukan orientasi kepada pasien baru & keluarga
·    Mengkaji   setiap   klien,   menganalisa,   menetapkan  rencana   keperawatan   (renpra), menerapkan tindakan keperawatan dan mengevaluasi renpra
·    Mengkoordinasikan renpra dengan tindakan medis melalui komunikasi yang konsisten
·    Membagi   tugas   anggota  tim  dan merencanakan  kontinuitas  asuhan  keperawatan melalui konfrens
·    Membimbing dan mengawasi pelaksanan asuhan keperawatan oleh anggota tim
·    Bertanggung jawab terhadap kepala ruangan
3.    Tanggung Jawab Anggota Tim :
·    Melaksanakan perawatan sesuai renpra yang dibuat katim
·    Memberikan perawatan total/komprehensif pada sejumlah pasien
·    Bertanggung jawab atas keputusan keperawatan selama katim tidak ada di tempat
·     Berkontribusi terhadap perawatan
1)    observasi terus menerus
2)    ikut ronde keperawatan
3)    berinterkasi dgn pasien & keluarga
4)    berkontribusi dgn katim/karu bila ada masalah
2.    Model Jenjang Karier Perawat
Jenjang karir perawat di Indonesia telah disusun oleh PPNI bersama departemen kesehatan dalam bentuk pedoman jenjang karir perawat tahun 2006. Berikut ini paparan beberapa model sistem jenjang karir perawat yang telah ada dan telah dikembangkan:
Model Jenjang Karir Perawat di Indonesia (Pedoman Depkes, 2006) :
Depkes RI pada Tahun 2006 menyusun pedoman jenjang karir bagi perawat, yang didalamnya dijelaskan penjenjangan karir perawat profesional yang meliputi perawat klinik, perawat manajer, perawat pendidik dan perawat peneliti. Selanjutnya, Depkes RI mengatur jenjang karir profesional perawat klinik kedalam lima tingkatan, sebagai berikut:
1.    Perawat Klinik I (PK I)
    Perawat klinik I (Novice) adalah perawat lulusan D-III telah memiliki pengalaman kerja 2 tahun atau Ners (lulusan S-1 Keperawatan plus pendidikan profesi) dengan pengalaman kerja 0 tahun, dan mempunyai sertifikat PK-I.
2.    Perawat Klinik II (PK II)
    Perawat klinik II (Advance Beginner) adalah perawat lulusan D III Keperawatan dengan pengalaman kerja 5 tahun atau Ners (lulusan S-1 Keperawatan plus pendidikan profesi) dengan pengalaman kerja 3 tahun, dan mempunyai sertifikat PK-II
3.    Perawat Klinik III (PK III)
    Perawat klinik III (competent) adalah perawat lulusan D III Keperawatan dengan pengalaman kerja 9 tahun atau Ners (lulusan S-1 Keperawatan plus pendidikan profesi) dengan pengalaman klinik 6 tahun atau Ners Spesialis dengan pengalaman kerja 0 tahun, dan memiliki sertifikat PK-III. Bagi lulusan D-III keperawatan yang tidak melanjutkan ke jenjang S-1 keperawatan tidak dapat melanjutkan ke jenjang PK-IV dan seterusnya.
4.    Perawat Klinik IV (PK IV)
    Perawat klinik IV (Proficient) adalah Ners (lulusan S-1 Keperawatan plus pendidikan profesi) dengan pengalaman kerja 9 tahun atau Ners Spesialis dengan pengalaman kerja 2 tahun, dan memiliki sertifikat PK-IV, atau Ners Spesialis Konsultan dengan pengalaman kerja 0 tahun.
5.    Perawat Klinik V (PK V)
    Perawat klinik V (Expert) adalah Ners Spesialis dengan pengalaman kerja 4 tahun atau Ners Spesialis Konsultan dengan pengalaman kerja 1 tahun, dan memiliki sertifikat PK-V.

GOOD CLINICAL GOVERNANCE

GOOD CLINICAL GOVERNANCE
oleh
Ns. Nunung Nurhayati, S. Kep., M. Kep.
STIKep PPNI Jawa Barat

    Pelayanan klinis merupakan core business dari rumah sakit yang perlu mendapat perhatian khusus terutama yang menyangkut dengan keselamatan pasien dan profesionalisme dalam pelayanan.  Untuk pengembangan sistem pelayanan klinis dilakukan melalui penerapan good clinical governance. Konsep clinical governance yang dikembangkan oleh National Health System, Inggris yang didefinisikan sebagai: “A framework through which NHS organizations are accountable for continuously improving the quality of their services, and safeguarding high standards of care by creating an environment in which excellence in clinical care can flourish” ternyata menunjukkan perbaikan mutu pelayanan klinis yang signifikan.
    Sedang menurut ACHS (Australian Council and Healthcare Standard, 2004) Clinical governance adalah,  “the system by which the governing body, managers and clinicians share responsibility and are held accountable for patient care, minimising risks to consumers and for continuously monitoring and improving the quality of clinical care”. Konsep tersebut diadopsi di Indonesia untuk peningkatan mutu pelayanan klinis di rumah sakit dan menjamin keselamatan pasien, yang diharapkan menjadi kerangka kerja dalam meningkatan mutu pelayanan klinis di rumah sakit.
Adapun tujuan akhir diterapkannya good clinical governance adalah untuk menjaga agar pelayanan kesehatan khususnya di rumah sakit dapat terselenggara dengan baik berdasarkan standar pelayanan yang tinggi serta dilakukan pada lingkungan kerja yang memiliki tingkat profesionalisme tinggi. Dengan demikian pada gilirannya akan mendukung dalam upaya mewujudkan peningkatan derajat kesehatan melalui upaya klinik yang maksimal dengan biaya yang paling cost-effective.
Konsep dasar good clinical governance adalah:    
1.    Akuntabilitas (pertanggung jawaban) pelayanan klinis yang diberikan,
2.    Perbaikan mutu pelayanan klinis yang berkesinambungan,
3.    Penerapan standar pelayanan klinis secara optimal, dan
4.    Menciptakan lingkungan pelayanan yang mendukung pelayanan klinis yang bermutu.
      Dalam pelaksanaan clinical governance, didasarkan pada empat pilar utama, yang perlu dioperasionalkan dalam bentuk kegiatan nyata yaitu:
1.    Nilai pelanggan (customer value)
    Pasien sebagai focus utama pelayanan klinis (it is all about patient), Pasien dilibatkan bahkan diberdayakan dalam proses penyediaan pelayanan klinis, bahkan dalam pengembangan sistem manajemen klinis.
    Outcome  yang diharapkan :
·    Peningkatan pemahaman dan ketanggapan terhadap persyaratan pelanggan
·    Peningkatan pengetahuan dan partisipasi pasien dan pelanggan dalam pelayanan kesehatan
·    Peningkatan kepercayaan pelanggan
·    Peningkatan outcome  pasien
        Dalam hal ini dibutuhkan peran manajer klinik manajer klinik dengan kemampuan :
·    Mampu mengidentifikasi persyaratan pelanggan dalam pelayanan klinik
·    Mampu melibatkan pasien/pelanggan dalam proses pelayanan klinik
·    Mampu mengukur dan meningkatkan kepercayaan pelanggan
·    Mampu mengelola dan meningkatkan kinerja pelayanan klinik yang terkait  dengan outcome  pasien
2.    Peningkatan dan pengukuran kinerja pelayanan klinis
    Outcome  yang diharapkan :
·    Pengembangan clinical care pathways yang disetujui bersama berdasarkan evidence-based clinical practice
·    Peningkatan kepatuhan terhadap standar dan penurunan terjadinya variasi pelayanan klnik
·    Peningkatan kinerja klinik (patient outcome s)
·    Penurunan biaya pelayanan kesehatan karena upaya pencegahan terjadinya adverse events
        Dalam hal ini dibutuhkan peran manajer klinik manajer klinik dengan kemampuan :
·    Mampu menyusun clinical guideline/pathways berdasarkan EBP
·    Mampu mengukur dan meningkatkan tingkat kepatuhan terhadap standar
·    Mampu mengelola dan meningkatkan kinerja pelayanan klinik
·    Mampu mengkaitkan upaya peningkatan mutu pelayanan klinik dengan efisiensi biaya
3.    Manajemen risiko klinis
    Sebagai upaya untuk meminimalkan risiko klinis dan keselamatan pasien, maka manajemen risiko klinis perlu diterapkan melalui langkah-langkah: identifikasi risiko, analisis risiko, dan tindak lanjut terhadap risiko.
    Outcome  yang diharapkan :
·    Peningkatan pemantauan dan pelaporan terjadinya incident dan adverse events
·    Peningkatan pelaksanaan investigasi dari clinical incidents dan adverse events
·    Perbaikan proses manajemen resiko
·    Penurunan angka kejadian dan tingkat keparahan adverse events
        Dalam hal ini dibutuhkan peran manajer klinik manajer klinik dengan kemampuan :
·    Mampu melakukan proses kredensial
·    Mampu menyusun rencana pengembangan profesional dan identifikasi  pelatihan keterampilan
·    Mampu mengelola dan meningkatkan kinerja
·    Mampu mengelola dan meningkatkan kepuasan kerja karyawan
4.    Manajemen dan pengembangan tenaga profesional
    Pelayanan klinis yang bermutu dan menjamin keselamatan pasien harus diberikan oleh tenaga-tenaga yang kompeten dalam bidangnya.
    Outcome  yang diharapkan :
·    Perbaikan proses kredensial
·    Perbaikan pengembangan profesional dan pelatihan keterampilan
·    Perbaikan manajemen kinerja
·    Peningkatan kepuasan kerja karyawan
        Dalam hal ini dibutuhkan peran manajer klinik manajer klinik dengan kemampuan :
·    Mampu melakukan proses kredensial
·    Mampu menyusun rencana pengembangan profesional dan identifikasi pelatihan keterampilan
·    Mampu mengelola dan meningkatkan kinerja
·    Mampu mengelola dan meningkatkan kepuasan kerja karyawan
       Upaya peningkatan mutu klinis yang dalam penerapannya melalui pengembangan kegiatan berdasarkan ke-empat pilar clinical governance harus dituangkan dalam dokumen pola tata kelola rumah sakit sehingga akan menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan perbaikan mutu dan jaminan keselamatan pasien.
Peran Serta Pemerintah dalam implementasi Clinical  Governance
Gambar 1. Peran Serta Pemerintah
Setiap sistem pendukung  dalam tata kelola  klinis harus berperan di dalam sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan  meliputi keuangan dan fungsi  korporasi lainnya. Tata kelola  klinis terjadi dalam konteks yang lebih luas dimana peran pemerintah termasuk pengaturan arah strategis, mengelola risiko, meningkatkan kinerja dan memastikan kepatuhan dengan persyaratan (Gambar 1).
Tata kelola sebuah organisasi  membutuhkan  program dan proses review sehingga menghasilkan perbaikan internal pada setiap tingkat organisasi. Pada akhirnya, organisasi pelayanan kesehatan bertanggung jawab untuk kualitas dan keamanan pelayanan klinis kepada Menteri Kesehatan, dan melalui Menteri yang bertindak atas nama mereka, bertanggung jawab ke masyarakat pengguna. Pada tingkat akuntabilitas pelayanan klinis, untuk kualitas layanan dibagi peran dan tanggung jawab antara anggota tim pelayanan kesehatan yang sifatnya multidisipliner .

Laporan Tata Kelola Ruangan IGD

Laporan Tata Kelola Ruangan IGD
oleh
Ns. Nunung Nurhayati, S. Kep., M. Kep
STIKep PPNI Jawa Barat

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    LATAR BELAKANG
Rumah sakit merupakan salah satu badan yang bergerak dalam bidang kesehatan dan berperan penting bagi terciptanya mutu hidup dan lingkungan hidup bagi masyarakat, sehingga tercipta derajat kesehatan yang tinggi, baik bagi kesehatan badaniah, rohaniah, maupun sosial. Rumah sakit mempunyai tugas melaksanakan upaya kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat setiap masyarakat agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
Menurut WHO rumah sakit merupakan suatu organisasi sosial terintegrasi yang berfungsi menyediakan pelayanan kesehatan yang lengkap bagi masyarakat. Pelayanan tersebut dapat berupa pelayanan kuratif, promotif, preventif, dan rehabilitatif.  Bisnis utama rumah sakit adalah pelayanan klinik (pelayanan medis, keperawatan dan penunjang medik). Karena itu penting untuk menjaga mutu / kualitas layanan yang menjadi indikator penting dalam menilai  baik – buruknya rumah sakit yang merupakan salah satu pilar good clinical governance.
Rumah sakit sebagai lembaga usaha non profit secara umum dapat digambarkan sebagai organisasi yang bertujuan lebih kepada memberikan pelayanan pada publik dibandingkan dengan mengumpulkan keuntungan bagi para pemiliknya. Ini yang membedakan lembaga usaha non profit dengan organisasi yang bertujuan mengumpulkan laba. Bisnis bagi lembaga usaha non profit adalah upaya atau aktivitas untuk memuaskan pengguna. Meskipun bukan semata bertujuan untuk mengumpulkan keuntungan (finansial), lembaga non profit pun perlu menerapkan tata kelola yang baik.
Hasil analisis di banyak negara oleh berbagai organisasi internasional, sebab utama terjadinya tragedi ini diyakini muncul karena lemahnya tata kelola atau kegagalan penerapan tata kelola yang baik. Penyebab tersebut diantaranya, sistem hukum yang tidak jelas, standar pelayanan dan audit yang tidak konsisten,  pandangan pelaksana pelayanan kesehatan dan pemilik rumah sakit yang kurang peduli terhadap hak-hak pasien dan berbagai hal lainnya. Secara mendasar disebutkan bahwa kegagalan organisasi pelayanan  publik tersebut disebabkan oleh kegagalan strategi, praktek yang disebabkan karena lemahnya pengawasan terutama oleh pihak yang berwenang.
Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan salah satu fasilitas terpenting dalam sebuah rumah sakit. IGD merupakan tempat penanganan awal bagi pasien yang datang dalam kondisi terancam nyawanya atau dalam keadaan darurat, dengan kata lain butuh penanganan dan pertolongan cepat dan tepat. Oleh karena IGD memiliki peran yang tidak kecil, maka dibutuhkan IGD dengan fasilitas dan segala aspek yang dapat menunjang seluruh pasien gawat darurat yang datang, terutama IGD dalam sebuah rumah sakit yang ramai akan pasien yang datang untuk mendapatkan penanganan segera.
IGD RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung berperan dalam memberikan pelayanan gawat darurat yang cepat, tepat dan cermat dan terjangkau sesuai kebutuhan masyarakat, menyiapkan fasilitas sumber daya manusia yang terampil dan bermutu dalam melakukan pelayanan gawat darurat, meningkatkan mutu tenaga pelayanan khusus gawat darurat secara berkesinambungan, dan berpartisipasi dalam melaksanakan penelitian di bidang gawat darurat.
IGD bertugas menyelenggarakan pelayanan medis pasien gawat darurat yaitu pasien dengan ancaman kematian dan perlu pertolongan segera (critically ill patient), pasien yang tidak ada ancaman kematian tetapi perlu pertolongan segera (emergency patient) dan pelayanan pasien tidak gawat tidak darurat yang datang ke IGD selama 24 jam terus menerus; mengelola pelayanan khusus siaga bencana dan pelayanan medis saat bencana; dan bersama dengan bagian pendidikan & penelitian mengelola pelatihan penanganan pasien gawat darurat.
Kegiatan IGD meliputi penyelenggaraan pelayanan medis gawat darurat pelayanan resusitasi, pelayanan bedah (surgikal), pelayanan non bedah (medikal), serta obstetrik ginekologi dan pediatrik yang meliputi kegiatan monitoring supervisi pelayanan medis di ruang tindakan, observasi/rawat sementara, monitoring supervisi keluhan pasien/pelanggan lain, audit pelayanan dan audit kematian, pendataan dan penanganan kasus bermasalah, pengawasan transportasi pasien gawat darurat dari IGD ke ruang operasi (OK) atau intensive care unit (ICU), melakukan pelayanan kasus tidak gawat tidak darurat melalui pelayanan poliklinik 24 jam.
Dari tinjauan kegiatan di IGD RSHS maka diperlukan suatu manajemen atau tata kelola klinik untuk mencapai good clinical governance agar banyak pasien yang dapat ditolong. Tujuan utama dari pengelolaan organisasi layanan kesehatan yang baik adalah untuk memberikan perlindungan yang memadai dan perlakuan yang adil kepada para pengguna jasa layanan dan stake holder melalui peningkatan nilai lembaga secara maksimal khususnya pada pelayanan IGD RSHS.

1.2    TUJUAN
1.    Tujuan Umum
Setelah melakukan praktek tata kelola klinik selama 8 hari, mahasiswa pascasarjana keperawatan kritis mampu melakukan kajian situasi dan usulan pemecahan masalah pada tata kelola klinis di IGD sesuai dengan konsep 7 pilar good clinical governance dan langkah-langkah manajemen keperawatan.
2.    Tujuan Khusus
Setelah melakukan praktek aplikasi tata kelola klinik selama 8 hari, mahasiswa pasca keperawatan mampu :
·    Melakukan kajian situasi di IGD sebagai dasar untuk menyusun strategi dan operasional unit.
·    Menyusun rancangan strategis dan operasional unit pelayanan keperawatan tertentu berdasarkan 7 pilar good clinical governance bersama sama penanggung jawab unit.
·    Mengorganisasikan pelayanan keperawatan sesuai kondisi unit.

1.3    METODE PENULISAN
    Penyusunan makalah ini menggunakan metode pendekatan  observasi aktif dan wawancara kepada penyelia, kepala ruangan, clinical instructor, staf dan pasien/keluarga pasien di IGD RSHS; studi dokumentasi; dan studi literatur.

Laporan Pendahuluan Keperawatan Maternitas

FORMAT LAPORAN PENDAHULUAN
oleh
Ns. Nunung Nurhayati, S. Kep., M. Kep
STIKep PPNI Jawa Barat

A.    KONSEP PENYAKIT
1.    Pengertian
2.    Tanda dan gejala
3.    Klasifikasi
4.    Penyebab
5.    Patofisiologi
6.    Pemeriksaan diagnostic
7.    Penatalaksanaan farmokologi dan non farmakologi
B.    ASUHAN KEPERAWATAN
1.    Pengkajian
2.    Diagnosa Keperawatan
3.    Rencana Asuhan Keperawatan
4.    Rancangan Pendidikan Kesehatan

Lampiran 11
FORMAT PENULISAN LAPORAN KASUS
I.    PENGKAJIAN
A.    Pengumpulan Data
1.    Identitas Klien
Nama            :
Umur            :
Agama            :
Jenis Kelamin        :
Pendidikan        :
Pekerjaan            :
Suku/Bangsa        :
Status Perkawinan    :
Golongan Darah        :
Alamat            :
Tanggal Masuk RS    :
Tanggal Pengkajian    :
No Medrek        :
Diagnosa Medis    :
2.    Identitas Penanggung Jawab
Nama            :
Umur            :
Pendidikan        :
Pekerjaan        :
Hubungan dgn Klien    :
Alamat            :
3.    Riwayat Kesehatan
a.    Keluhan Utama
b.    Riwayat Kesehatan Sekarang
c.    Riwayat Kesehatan Dahulu
d.    Riwayat Kesehatan Keluarga
e.    Riwayat Obsteri dan ginekologi
1). Riwayat Ginekologi
(a). Riwayat Menstruasi
(b) Riwayat Perkawinan
(c). Riwayat Keluarga Berencana
2). Riwayat Obstetri
(a). Riwayat Kehamilan Sekarang
Trimester I,II,III
(b). Riwayat Persalinan Sekarang
Kala I,II,III,IV
(c). Riwayat kehamilan dan nifas yang lalu
4.    Pemeriksaan Fisik
A.    IBU
a.    Keadaan Umum
Penampilan Umum
Kesadaran (GCS)
b.    Tanda-tanda vital
Tekanan Darah
Nadi
Respirasi Rate
Suhu
Berat Badan
Tinggi Bandan
c. System Integumen
d. Sistem Penglihatan
e. Sistem Pendengaran
f. Sistem Pernafasan
g. Sistem Pencernaan
h. Sistem Kardiovaskuler
i.  Sistem Endokrin
j.  Sistem Perkemihan
k. Sistem Persyarafan
l.  Sistem Muskuloskeletal
Ekstremitas Atas
Ekstremitas Bawah
Kekuatan Otot
m. Sistem Reproduksi
Payudara
Uterus
Perineum
Vulva
Vagina
6.    Pola Aktivitas sehari-hari
No    Pola Aktivitas    Di Rumah    Di RS
1    Nutrisi
a.    Makan
b.    Minum           
2    Eliminasi
a.    BAB
b.    BAK           
3    Istirahat Tidur
Waktu tidur siang
Waktu tidur malam
Kebiasaan sebelum tidur
Keluhan           
4    Aktifitas
Aktifitas sehari-hari
Olah raga           
5    Kebersihan Diri
a.    Mandi, gosok gigi, mencuci rambut, menggunting kuku; frekuensi               
a.    Konsep Diri
1). Gambaran Diri
2). Identitas Diri
3). Ideal Diri
4). Harga Diri
5). Peraan
b.    Aspek social
c.    Data Spiritual
7.    Data Penunjang
a.    Hasil Laboratorium
b.    Therapi
B.    BAYI
1). Keadaan Umum
    a). Antropologi
BBL
PB
Lingkar Kepala
Lingkar dada
Lingkar perut
b). Pemeriksaan Fisik
Tanda-tanda Vital
Nadi
Respirasi
Suhu
c). Kepala
d). Mata
e). Telinga
f). Hidung
g). Mulut dan kerongkongan
h). Leher
i). Dada
j). Abdomen
k). Punggung
l). Ekstremitas atas dan bawah
m). Genetalia
n). Anus
II.    ANALISA DATA
No    DATA    ETIOLOGI    MASALAH
III.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas
IV.    PERENCANAAN, IMPLEMENTASI, DAN EVALUASI
No    Dx    Perencanaan    implementasi    evaluasi    paraf
        Intervensi    Rasional                      
V.    CATATANPERKEMBANGAN
No    Hari/tanggal    dx    Catatan perkembangan    paraf
               
Lampiran 12
FORMAT PENULISAN RESUME
A.    Pengkajian
1.    Biodata Klien
2.    Keluhan Utama
3.    Riwayat Kesehatan Sekarang
4.    Riwayat Kesehatan Dahulu
5.    Data Fokus (pengkajian system sesuai dengan kasus)
B.    Analisa Data
C.    Diagnosa Keperawatan (Prioritas maksimal 2 diagnosa)
D.    Rencana Asuhan Keperawatan (Rencana Asuhan Keperawatan yang akan dilaksanakan dalam satu shift)
E.    Implementasi dalam satu shift
F.    Evaluasi

Kerangka Acuan Keperawatan Maternitas

KERANGKA ACUAN
KEPERAWATAN MATERNITAS
MAHASISWA PROGRAM SARJANA KEPERAWATAN
STIKep PPNI JAWA BARAT
DI RSUD AL IHSAN
oleh
Ns. Nunung Nurhayati, S. Kep., M. Kep.

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN PPNI JAWA BARAT
2014/2015

KATA PENGANTAR

    Kerangka acuan  ini disusun sebagai pedoman bagi mahasiswa dan pembimbing klinik dalam menjalankan proses pembelajaran praktik klinik Program Sarjana Keperawatan MA Keperawatan  Maternitas. Kerangka acuan ini hanyalah merupakan buku panduan bagi mahasiswa untuk mencapai kemampuan klinik Keperawatan Maternitas. Oleh karena itu, mahasiswa harus menggunakan buku rujukan lain sebagai sumber pembelajaran.
    Disamping itu kerangka acuan  ini merupakan sintesis dan  revisi dari buku  rancangan pengajaran Keperawatan Maternitas yang pernah ada  sebelumnya dan disusun oleh beberapa kolega kami pada teman-teman dalam kelompok keilmuan Keperawatan Maternitas Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan PPNI Jawa Barat yang  telah  menyumbangkan ide-ide yang sangat bermanfaat dalam pengembangan kerangka acuan ini.
    Akhirnya saran dan kritik untuk perbaikan kerangka acuan  ini sangat kami harapkan.
Terima kasih.

                                    Bandung, Oktober 2014


                                    Penyusun


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR    ………………………………………………..    2      
DAFTAR ISI    …………………………………………………………    3      
KERANGKA ACUAN    ………………………………………………    4      
Deskripsi Mata Ajar    ……………………………………………….…    4      
Tujuan    …………………………………………………………..........    4      
III.    Tempat dan Waktu    ……………………………………………..    6      
IV.    Proses Pembelajaran    …………………………………………...    7      
V.    Penilaian Praktek Lapangan    …………………………………….    8      
VI.    Tempat Praktek dan Pembimbing    ……………………………..    9      
VII. TATA TERTIB     ………………………………………………...    10      
Lampiran-lampiran    …………………………………………………..   11   


KERANGKA ACUAN
KEPERAWATAN MATERNITAS
MAHASISWA PROGRAM SARJANA KEPERAWATAN
STIKep PPNI JAWA BARAT

MATA AJARAN        : KEPERAWATAN MATERNITAS
BOBOT                      : 1 SKS
PENEMPATAN          : SEMESTER V
KOORDINATOR       : Ns. NUNUNG NURHAYATI, S. Kep., M. Kep.

I.    Deskripsi Mata Ajaran
Mata ajaran  ini membahas mengenai konsep dasar keperawatan maternitas, meliputi : intra natal, post partum (nifas) serta bayi baru lahir normal dalam konteks kesehatan keluarga, kesehatan perempuan pada masa subur sampai dengan menopause, masalah atau gangguan system reproduksi dan therapy farmakologi, KB yang didasari oleh ilmu obstetric dan ginekologi meliputi anatomi fisiologi organ reproduksi. Proses pembelajaran memberikan pengalaman kepada peserta didik tentang pemahaman dan keterampilan klinik asuhan keperawatan maternitas.

II.    Tujuan
A.    Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Pada akhir kegiatan praktek mandiri mahasiswa diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan ibu pada masa intranatal, nifas serta yang mengalami gangguan reproduksi, juga perawatan bayi baru lahir.

B.    Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Pada akhir kegiatan  praktek lapangan, mahasiswa dapat :

INTRANATAL
Mengkaji status kesehatan klien
Membuat riwayat keperawatan yang berhubungan dengan Intranatal
Melakukan pengkajian fisik dengan metode inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
Melaksanakan rencana keperawatan yang dibutuhkan ibu selama periode intranatal seperti :
a.    Monitoring dengan Patograf : Pemberian obat-obatan, persiapan daerah perineal, dan dukungan
b.    Kebutuhan dasar ibu : Bimbingan, Makanan dan cairan, eleminasi, posisi dan aktivitas, control nyeri dan pengenalan tanda dan bahaya.

POSTNATAL
1.    Postpartum Fisiologis
Mengkaji status kesehatan klien
Membuat riwayat keperawatan yang berhubungan dengan postnatal
Melakukan pengkajian fisik dengan metode inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
Mempersiapkan pemeriksaan khusus obstetric dan laboratorium
Melaksanakan rencana keperawatan yang dibutuhkan ibu selama periode postpartum yang lazim seperti :
a.    Pencegahan infeksi
b.    Kebersihan diri
c.    Peralatan perineal
d.    Eliminasi
e.    Mobilisasi/aktivitas dan tidur
f.    Pengawasan involusi uteri
g.    Perawatan luka jalan lahir
h.    Perawatan payudara
i.    Makanan dan minuman
j.    Hubungan seksual
k.    Emosi
Melaksanakan keterampilan yang berhubungan dengan ibu postnatal
Melaksanakan evaluasi keperawatan berdasarkan hasil yang diharapkan

2.    Postpartum Patologis
Memberikan asuhan keperawatan pada ibu post partum dengan penyulit :
Perdarahan
Tromboplebitis
Infeksi jalan lahir puerpuralis
Mastitis
Infeksi saluran kemih
Post partum blues
Post SC
Post FE/VE
Preeklamsi/eklamsia

PERINATAL
1.    Bayi Baru Lahir Normal
a.    Mengkaji status kesehatan
b.    Mendesain rencana intervensi dan tindakan keperawatan bayi baru lahir
c.    Pembersihan jalan lahir
d.    Merawat tali pusat
e.    Menilai APGAR
f.    Stimulasi
g.    Nutrisi dan cairan
h.    Profilaksis
i.    Kebersihan diri
j.    Antropometri
k.    Menentukan sesuai gestasi
l.    Pakaian dan selimut
m.    Posisioning dan lingkungan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA WANITA DENGAN GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI SEPERTI :
1.    Gangguan menstruasi
2.    Peradangan dan infeksi
3.    Neoplasma
4.    Perubahan struktur organ reproduksi
5.    Infertil

III.    Tempat dan Waktu
a.    Lahan Praktek yang digunakan :
Rumah Sakit Umum Daerah Al Ihsan Ruang VK, Ruang Perinatologi, dan Ruang nifas.
b.    Pembimbing praktek adalah dosen mata ajaran keperawatan maternitas STIKep PPNI Jawa Barat dan tenaga CI dari tiap ruangan dimana mahasiswa praktek.

c.    Waktu praktek
Gelombang I : Tanggal 10 Nopember-20 Desember 2014
Gelombang II: Tanggal 29 Desember 2014-7 Pebruari 2015

d.    Jadual dinas
Setiap hari senin-sabtu (Jadual terlampir)
Pagi    : 07.00-14.00 WIB
Siang    : 14.00-21.00 WIB

IV.    Proses Pembelajaran
a.    Aktif, mahasiswa mencari kompetensi yang ingin dicapai dengan mencari kasus untuk dijadikan objek pembelajaran dengan cara melapor dulu pada pembimbing
b.    Pasif, mahasiswa mendapat tugas dari pembimbing untuk melaksanakan pembelajaran.
c.    Proses bimbingan langsung melalui tahapan preconference, pelaksanaan dan post conference dengan waktu sebagai berikut :
Pukul     07.00-07.30    : Pre conference
    07.30-12.00    : Melakukan askep di ruangan masing-masing
    12.00-13.30    : Pendokumentasian askep
    13.30-14.00    : Post conference
d. Proses bimbingan tak langsung melalui dokumen-dokumen asuhan keperawatan yang dibuat  oleh mahasiswa dan diberikan umpan balik. Setiap hari pertama dinas di satu ruangan mahasiswa harus membuat laporan pendahuluan (LP) dan dikumpulkan saat pre conference. Tiap-tiap mahasiswa masing-masing membuat 1 laporan kasus /askep di ruang perawatan (Nifas), Askep R Perinatologi  dan resume di R VK dan dikumpulkan setiap akhir dinas di ruangan tersebut.
e.  Laporan asuhan keperawatan diserahkan setiap post conference untuk diberi masukan dan laporan lengkap diserahkan pada hari terakhir praktek lapangan di suatu ruangan dan melangsungkan response dengan bimbingan lapangan dari pendidikan dan lahan praktek.   

V.    Penilaian Praktek Lapangan
Laporan Pendahuluan setiap ruangan        : 20%
Kompetensi                    : 20%
ADL                        : 10%
Laporan Asuhan Keperawatan/resume    : 40%
Penampilan klinik/sikap            : 10%

VI.    Tempat Praktek dan Pembimbing

RUANGAN    PEMBIMBING    PEMBIMBING RUANGAN      
R. VK    Ns. Nunung Nurhayati, S. Kep., M. Kep., dan Nyayu Nina PC, S. Kep., Ners., M. Kep.    CI      
R. OBGYN                
R. PERINATAL             

VII. TATA TERTIB (Mahasiswa dan Pembimbing)

Mahasiswa
Dalam melaksanakan praktik, mahasiswa diwajibkan memperhatikan tata tertib di bawah ini :
1.    Prasyarat
Mahasiswa yang mengikuti praktek keperawatan maternitas telah mengikuti ujian tulis dan lab di akademik.
2.    Waktu
a.    Datang tepat waktu sesuai dengan jam dinas di lahan praktik, mahasiswa masuk sesuai jadwal dinas untuk dinas pagi jam 07.00-14.00 WIB, sore jam 14.00-21.00 WIB. Mahasiswa dibagi dalam kelompok dan dirotasikan sesuai rumah sakit yang digunakan. Perubahan jam dinas harus seijin pembimbing akademik.
b.    Catat jam datang dan jam pulang pada lembar daftar hadir dan ditanda tangani oleh pembimbing atau kepala ruangan/wakil/perawat ruangan bila pembimbing tidak ada di tempat pada hari yang sama.
c.    Keterlambatan lebih dari 15 menit mahasiswa harus menambah 1 jam praktik yang telah ditentukan
3.    Kelengkapan praktik:
Setiap mahasiswa membawa perlengkapan praktik perawat (nurse/prenatal kit) yang berisi meteran, laennec, alat untuk mengukur antropometri, dan palu reflek.
4.    Kehadiran
a.    Kehadiran praktik harus 100%
b.    Apabila tidak bias hadir sesuai jadwal yang telah dibuat oleh mahasiswa, maka mahasiswa wajib mengganti dengan hari lain atas persetujuan pembimbing dan kepala ruangan. Apabila tidak hadir karena sakit harus mengganti sesuai dengan waktu yang ditinggalkan, bila tidak hadir karena izin harus mengganti dua kali lipat dengan waktu yang ditinggalkan, sedangkan jika tidak hadir karena alpha harus mengganti tiga kali lipat dengan waktu yang ditinggalkan.
c.    Mahasiswa wajib mempunyai pengalaman praktik dinas pagi, dan sore.
e.    Ketidakhadiran harus diberitahukan kepada pembimbing dan koordinator MA disertai dengan surat keterangan serta harus mengganti hari dinas sesuai dengan kesepakatan dengan pembimbing.
f.    Jika meninggalkan ruangan mahasiswa harus ijin kepada kepala ruangan.
5.    Penampilan di lahan praktik
a.    Wajib menggunakan seragam klinik sesuai dengan ketentuan dan tanda pengenal dari lahan praktik (jika ada). Rambut rapih, tidak menggunakan perhiasan dan make up wajah yang berlebihan. Jika tidak memenuhi ketentuan ini tidak diijinkan untuk melakukan praktik. Di ruangan VK dan perinatologi perlu memakai barascort yang dapat dipinjam di lab perawatan STIKep PPNI Jawa Barat, menggunakan alas kaki yang tertutup untuk di ruangan perinatology dan ruangan VK.
b.    Bersikap profesional dan  melakukan teknik komunikasi dengan benar terhadap klien, kolega, atau pembimbing. Perhatikan tata tertib, sopan santun, dan peraturan yang berlaku di lahan praktik.
c.    Apabila di ruangan mahasiswa membutuhkan catatan kesehatan klien, mahasiswa harus minta izin terlebih dahulu kepada perawat ruangan yang bertanggung jawab dan tidak diperkenankan dibawa keluar ruangan
6.    Sangsi
Setiap pelanggaran tata tertib akan diberikan sanksi akademik berupa teguran, pengurangan nilai sampai dengan tidak lulus Mata Ajar.
7.    Pengumpulan tugas
Laporan kasus, resume, kompetensi, laporan LP, laporan sikap, absensi,dan laporan penilaian ASKEP diserahkan tiga hari setelah berakhir praktik : keterlambatan laporan akan dikurangi 0,5% setiap harinya.

Pembimbing
Untuk membantu kelancaran proses pembimbingan klinik, diharapkan setiap pembimbing untuk :
1.    Mengisi absensi pembimbing sesuai dengan jam kehadiran (lihat absensi untuk pembimbing)--- absensi disimpan oleh PK.
2.    Menyerahkan jadwal bimbingan paling lambat pada minggu pertama kegiatan pembelajaran berlangsung.
3.    Menyelenggarakan semua kegiatan praktik klinik (termasuk konferens) di klinik.
4.    Mengikuti proses/alur kegiatan pembelajaran klinik keperawatan maternitas seperti yang tercantum pada buku pedoman praktik profesi keperawatan maternitas.
5.    Memberikan penilaian klinik pada setiap mahasiswa bimbingannya sesuai ketentuan
6.    Memberitahukan langsung pada koordinator jika tidak datang atau terlambat datang saat membimbing.
7.    Meminta persetujuan koordinator jika melibatkan pembimbing lain (selain yang tercantum pada daftar pembimbing).
8.    Saling menghargai dan bekerja sama secara baik dengan pembimbing lain.
9.    Menjadi contoh peran perawat profesional bagi mahasiswa.
10.    Bersedia menerima masukan dari tim Pembimbing lain jika terdapat pelanggaran/hal yang tidak sesuai dengan tata tertib.

Mengetahui                                                     Bandung,     Oktober 2014
Ka PRODI S1                                                 Koordinator MA Kep Maternitas



Susy Puspasari, S. Kep., Ners., M. Kep.        Ns. Nunung Nurhayati, S. Kep., M. Kep.

Wednesday, April 1, 2015

Seven Jump Kasus Kanker Laring


KASUS I
oleh
Ns. Nunung Nurhayati, S. Kep., M. Kep. 
STIKep PPNI Jawa Barat
Seorang klien datang ke UGD RS tanggal 10 Februari 2015 jam 08.00  WIB, klien adalah rujukan dari Rumah Sakit Tasikmalaya, dari  hasil anamnesis didapatkan, suara (-), klien tidak bisa makan dan minum, keluhan disertai batuk dan dahak (+) sedikit, keluhan sesak bertambah berat (ngorok) disertai sakit, ada benjolan disebelah kiri ± 5 cm, komunikasi menggunakan bahasa non verbal, hasil patologi anatomi klien menunjukkan karsinoma sel squamosa, dari hasil anamnesis dokter klien akan dilakukan tindakan tracheostomy, inform konsen keluarga (+).
Pemeriksaan laboratorium
Tanggal 10 Februari 2015
Hematologi                             Hasil                            Nilai Normal                           Satuan
Hematology                            13,6                             13-18                                       gr/dl
Leukosit                                  13,200                         3800-10.000                            /mn3
Hematokrit                              42                                40-52                                       %
Trombosit                                246.000                       150.000-440.000                     /mm3
Kimia
Albumin                                  2,1                               3,5-5
Tanggal 12 Februari 2015
SGOT                                      27                                sd 37                                       u/L 37®C
SGPT                                      37                                sd 40                                       u/L 37®C
Ureum                                     36                                15-50                                       Mg/dl
Kreatinin                                 0,7                               0,6-1                                        Mg/dl
Glukosa Puasa                         >1                                70-<110                                   Mg/dl
Glukosa 2 Jam PP                   114                              <140                                        Mg/dl
Natrium                                   133                              135-145                                   Eq/L
LO
1.      Anatomi Laring (otot penyangga, otot-otot laring, persyarafan, perdarahan dan drainase limfatik, struuktur laring)
2.      Pengertian Ca Laring
3.      Etiologi Ca Laring
4.      Patofisiologi Ca Laring
5.      Manifestasi klinis Ca Laring
6.      Klasifikasi Ca Laring
7.      Pemeriksaan diagnostik Ca Laring
8.      Penatalaksanaan medis Ca Laring
9.      Askep Ca Laring (pengkajian, diagnosa keperawatan dan intervensi)


abstrak kualitas hidup ibu pasca melahirkan dengan HIV/AIDS


Kualitas Hidup Ibu Pasca Melahirkan dengan HIV/AIDS
Ns. Nunung Nurhayati, S. Kep., M. Kep. 
STIKep PPNI Jawa Barat
 
ABSTRAK
Terjadinya HIV/AIDS pada ibu pasca melahirkan dengan HIV/AIDS juga akan menimbulkan permasalahan atau dampak. Dari segi fisik, ibu pasca melahirkan dengan HIV/AIDS diantaranya kekebalan tubuh semakin menurun, infeksi opportunistic seperti TBC, diare kronis dan infeksi selaput dan jaringan otak dan tumor spesifik (Prawirohardjo, 2008). Akibat penyakit tersebut, ibu pasca melahirkan dengan HIV/AIDS sering mengalami ancaman terkait dengan masalah oksigenasi, cairan elektrolit, nutrisi dan masalah akibat penurunan kesadaran (Kollef, Bedient, & Isakow, 2008). Metode penulusuran literatur dengan menggunakan  google search kemudian search ke Ebschost kemudian masuk ke link CINALH dan web site proquest (full text). kata kunci yang digunakan HIV, AIDS, postpartum, dan quality of life. Literatur yang digunakan dipilih sesuai kriteria yang penyusun tentukan yaitu untuk populasi ibu pasca melahirkan yang memiliki bayi berusia ≤ 12 bulan, design riset dengan menggunakan RCT, publikasi jurnal 10 tahun terakhir (2004-2014). Hasil telaah literatur didapatkan hasil bahwa pada ibu pasca melahirkan dengan HIV/AIDS memiliki tekanan emosional lebih tinggi dibanding dengan ibu pasca melahirkan dengan HIV/AIDS negatif, dan kualitas hidup ibu pasca melahirkan dengan HIV/AIDS buruk pada semua domain yaitu :  fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungan. Sebagian besar ibu pasca melahirkan dengan HIV/AIDS mengalamai  perubahan gejala fisik dan psikologis lebih banyak dari ibu pasca melahirkan dengan HIV/AIDS  negatif. Sedangkan untuk kualitas hidup ibu pasca melahirkan dengan HIV/AIDS didapatkan hasil lebih buruk dibanding dengan kualitas hidup ibu pasca melahirkan dengan HIV negatif. Sebagian besar ibu pasca melahirkan dengan HIV/AIDS memiliki masalah kesehatan fisik lebih buruk dibanding dengan ibu pasca melahirkan dengan HIV negatif. Kesimpulan dari telaah literatur didapatkan kesimpulan bahwa kualitas hidup ibu pasca melahirkan dipengaruhi oleh adanya perubahan fisiologis dan perubahan psikologi pada ibu pasca melahirkan.
Kata Kunci : HIV/AIDS, Postartum, Kualitas Hidup.