Sunday, May 24, 2015

asuhan keperawatan pada pasien fraktur

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PSIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSCULOSCELETAL : FRAKTUR
Oleh
Ns. Nunung Nurhayati, S. Kep., M. Kep.

A.    Laporan Pendahuluan Fraktur
1.      Definisi
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000). Rusaknya kontinuitas tulang ini dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang / osteoporosis (Anonim, 2011).
2.      Jenis-Jenis Fraktur
a.       Fraktur komplit: garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang.
b.      Fraktur tidak komplit: garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang.
c.       Fraktur terbuka: bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit.
d.      Fraktur tertutup: bilamana tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit (Rahmad, 1996).
3.      Etiologi
Penyebab fraktur adalah trauma yang mengenai tulang, dimana trauma tersebut kekuatannya melebihi kekuatan tulang, dan mayoritas fraktur akibat kecelakaan lalu lintas.Trauma-trauma lain adalah jatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja, cidera olah raga.Trauma bisa terjadi secara langsung dan tidak langsung. Dikatakan langsung apabila terjadi benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu, dan secara tidak langsung apabila titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan (Rahmad, 1996 ).
Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
a.       Cedera traumatik
Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :
1)      Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang pata secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya.
2)      Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula.
3)      Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat.
b.      Fraktur Patologik
Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut :
1)      Tumor tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif.
2)      Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri.
3)      Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
c.       Secara spontan
Disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.



4.      Patofisiologi
Tulang yang mengalami fraktur biasanya diikuti kerusakan jaringan disekitarnya, seperti di ligamen, otot tendon, persyarafan dan pembuluh darah, oleh karena itu pada kasus fraktur harus ditangani cepat, dan perlu dilakukan tindakan operasi.
Tanda dan Gejala :
a.       Nyeri hebat ditempat fraktur
b.      Tak mampu menggerakkan ekstremitas bawah
c.       Diikuti tanda gejala fraktur secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak, sepsis pada fraktur terbuka dan deformitas

6.      Klasifikasi
Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasanyang praktis , dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:
a.       Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan) :
1)      Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
2)      Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapathubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
b.      Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur :
1)      Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihatpada foto.
2)      Fraktur Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti:
a)      Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)
b)      Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya.
c)      Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang.
c.       Berdasarkan bentuk garis patah dan hubbungannya dengan mekanisme trauma.
1)      Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
2)      Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasi juga.
3)      Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi.
4)      Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.
5)      Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang.
d.      Berdasarkan jumlah garis patah
1)      Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
2)      Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
3)      Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.
e.       Berdasarkan pergeseran fragmen tulang
1)      Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap tetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
2)      Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas:
a)      Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping).
b)      Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
c)      Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).
f.       Berdasarkan posisi frakur
Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian :
1)      1/3 proksimal
2)      1/3 medial
3)      1/3 distal
g.      Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulangulang.
h.      Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
1)      Tingkat 0 : fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak sekitarnya.
2)      Tingkat 1 : fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
3)      Tingkat 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan.
4)      Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan ancaman sindroma kompartement.
7.      Manifestasi Klinik
a.       Deformitas
b.      Bengkak/edema
c.       Echimosis (Memar)
d.      Spasme otot
e.       Nyeri
f.       Kurang/hilang sensasi
g.      Krepitasi
h.      Pergerakan abnormal
i.        Rontgen abnormal
8.      Proses Penyembuhan Tulang
Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang.Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. Ada lima stadium penyembuhan tulang, yaitu:
a.       Stadium Satu-Pembentukan Hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur.Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 – 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali.
b.      Stadium Dua-Proliferasi Seluler
Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum, dan bone marrow yang telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya.
c.       Stadium Tiga-Pembentukan Kallus
Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati.Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.
d.      Stadium Empat-Konsolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi lamellar.Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celahcelah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal.
e.       Stadium Lima-Remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terusmenerus. Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya.
9.      Komplikasi
a.       Komplikasi Awal
1)      Kerusakan Arteri à Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
2)      Kompartement Syndrom à Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu kuat.
3)      Fat Embolism Syndrom à Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea, demam.
4)      Infeksi à System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
5)      Avaskuler Nekrosis à Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia.
6)      Shock à Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.
b.      Komplikasi Dalam Waktu Lama
1)      Delayed Union à Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan suplai darah ke tulang.
2)      Nonunion à Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
3)      Malunion à Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik.
10.  Tes Diagnostik
a.       Pemeriksaan Rontgen : menentukan lokasi/luasnya fraktur/luasnyatrauma, scan tulang, temogram, scan CI: memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
b.      Hitung darah lengkap : HB mungkin meningkat/menurun.
c.       Peningkatan jumlal sop adalah respons stress normal setelah trauma.
d.      Kreatinin : traumaa otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal.
e.       Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multiple, atau cedera hati.
11.  Diagnosis
a.       Anamnesis
Bila tidak ada riwayat trauma, berarti fraktur patologis.Trauma harus diperinci kapan terjadinya, di mana terjadinya, jenisnya, berat-ringan trauma, arah trauma, dan posisi pasien atau ekstremitas yang bersangkutan (mekanisme trauma). Jangan lupa untuk meneliti kembali trauma di tempat lain secara sistematik dari kepala, muka, leher, dada, dan perut (Mansjoer, 2000).
b.      Pemeriksaan Umum
Dicari kemungkinan komplikasi umum seperti syok pada fraktur multipel, fraktur pelvis, fraktur terbuka, tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka yang mengalami infeksi (Mansjoer, 2000).
c.       Pemeriksaan Fisik
Menurut Rusdijas (2007), pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk fraktur adalah:
1)      Look (inspeksi): bengkak, deformitas, kelainan bentuk.
2)      Feel/palpasi: nyeri tekan, lokal pada tempat fraktur.
3)      Movement/gerakan: gerakan aktif sakit, gerakan pasif sakit krepitasi.
d.      Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang penting untuk dilakukan adalah “pencitraan” menggunakan sinar Rontgen (X-ray) untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang, oleh karena itu minimal diperlukan 2 proyeksi yaitu antero posterior (AP) atau AP lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) atau indikasi untuk memperlihatkan patologi yang dicari, karena adanya superposisi.Untuk fraktur baru indikasi X-ray adalah untuk melihat jenis dan kedudukan fraktur dan karenanya perlu tampak seluruh bagian tulang (kedua ujung persendian).
12.  Penatalaksanaan Medik
Tujuan pengobatan fraktur adalah untuk menempatkan ujung-ujung dari patah tulang supaya satu sama lain saling berdekatan, selain itu menjaga agar tulang tetap menempel sebagaimana mestinya. Proses penyembuhan memerlukan waktu minimal 4 minggu, tetapi pada usia lanjut biasanya memerlukan waktu yang lebih lama. Setelah sembuh, tulang biasanya kuat dan kembali berfungsi (Corwin, 2010).
Penatalaksanaan fraktur telah banyak mengalami perubahan dalam waktu sepuluh tahun terakhir ini.Traksi dan spica casting atau cast bracing mempunyai banyak kerugian karena waktu berbaring lebih lama, meski pun merupakan penatalaksanaan non-invasif pilihan untuk anak-anak. Oleh karena itu tindakan ini banyak dilakukan pada orang dewasa (Mansjoer, 2000).
a.       Bila keadaan penderita stabil dan luka telah diatasi, fraktur dapat dimobilisasi dengan salah satu cara dibawah ini:
1)      Traksi
Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Tujuan traksi adalah untuk menangani fraktur, dislokasi atau spasme otot dalam usaha untuk memperbaiki deformitas dan mempercepat penyembuhan.Traksi menggunakan beban untuk menahan anggota gerak pada tempatnya.Tapi sekarang sudah jarang digunakan. Traksi longitudinal yang memadai diperlukan selama 24 jam untuk mengatasi spasme otot dan mencegah pemendekan, dan fragmen harus ditopang di posterior untuk mencegah pelengkungan. Traksi pada anak-anak dengan fraktur femur harus kurang dari 12 kg, jika penderita yang gemuk memerlukan beban yang lebih besar.
2)      Fiksasi Interna
Fiksasi interna dilakukan dengan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang.Fiksasi interna merupakan pengobatan terbaik untuk patah tulang pinggul dan patah tulang disertai komplikasi (Djuwantoro, 1997).
3)      Pembidaian
Pembidaian adalah suatu cara pertolongan pertama pada cedera/ trauma sistem muskuloskeletal untuk mengistirahatkan (immobilisasi) bagian tubuh kita yang mengalami cedera dengan menggunakan suatu alat yaitu benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang (Anonim, 2010).
4)      Pemasangan Gips atau Operasi Dengan Orif
Gips adalah suatu bubuk campuran yang digunakan untuk membungkus secara keras daerah yang mengalami patah tulang. Pemasangan gips bertujuan untuk menyatukan kedua bagian tulang yang patah agar tak bergerak sehingga dapat menyatu dan fungsinya pulih kembali dengan cara mengimobilisasi tulang yang patah tersebut (Anonim, 2010).
5)      Penyembuhan Fraktur
Penyembuhan fraktur dibantu oleh pembebanan fisiologis pada tulang , sehingga dianjurkan untuk melakukan aktifitas otot dan penahanan beban secara lebih awal. Tujuan ini tercakup dalam tiga keputusan yang sederhana : reduksi, mempertahankan dan lakukan latihan.
b.      Tinjauan Obat
1)      Ceftriaxon
Cefriaxon adalah antibiotik sefalosporin generasi ketiga yang memiliki aktivitas bakterisidal yang luas dengan cara menghambat sintesis dinding sel, dan mempunyai masa kerja yang panjang. Secara in vitro memiliki aktivitas luas terhadap bakteri gram positif dan gram negatif, memiliki stabilitas yang tinggi terhadap β-laktamase baik penisilase maupun sefalosporinase yang dihasilkan bakteri gram positif dan gram negatif.
Cefriaxon diindikasikan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif terhadap cefriaxon antara lain: infeksi saluran pernafasan bawah (pneumonia), infeksi kulit dan struktur kulit, infeksi tulang dan sendi, infeksi intraabdominal, infeksi saluran kemih dan meningitis (Mc Evoy, 2004).
2)      Ketorolak
Ketorolak adalah salah satu dari obat anti inflamasi non steroid (NSAID), yang biasa digunakan untuk analgesik, antipiretik dan anti inflamasi.Obat ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi asam arakidonat menjadi PG2 terganggu.Ketorolak merupakan penghambat siklooksigenase yang non selektif. Ketorolak akan berinteraksi bila diberikan bersamaan dengan warfarin yang dapat menyebabkan pendarahan, ACE inhibitor dapat menyebabkan semakin tingginya resiko gagal ginjal, diuretik dapat berkurang efeknya (ISFI, 2008). 
3)      Ranitidin
Ranitidin merupakan antagonis histamin reseptor H2 (antagonis H2) menghambat kerja histamin pada semua reseptor H2 yang penggunaan klinisnya ialah menghambat sekresi asam lambung, dengan menghambat secara kompetitif ikatan histamin dengan reeseptor H2, zat ini mengurangi konsentrasi cAMP intraseluler sehingga sekresi asam lambung juga dihambat (Mycek, 2001).
4)      Paracetamol
Parasetamol merupakan metabolit fenacetin yang berkhasiat sebagai analgetik dan antipiretik tanpa mempengaruhi SSP atau menurunkan kesadaran serta tidak menyebabkan ketagihan.Parasetamol diindikasikan untuk pengobatan demam (selesma, pilek), dan nyeri ringan hingga sedang.Parasetamol tidak diberikan kepada pasien yang mengalami kerusakan fungsi hati dan ginjal serta dengan ketergantungan akohol (ISFI, 2008). Efek samping yang timbul akibat penggunaan parasetamol antara lain, reaksi hipersensitifitas, ruam kulit dan kelainan darah, kerusakan hati. Dalam keadaan overdosis, mual, muntah dan anoreksia.
5)      Cefadroxil
Cefadroxil adalah antibiotik sefalosporin generasi pertama yang memiliki aktivitas bakterisidal yang luas dengan cara menghambat sintesis dinding sel, dan mempunyai masa kerja yang panjang. Secara in vitro memiliki aktivitas luas terhadap bakteri gram positif dan gram negatif, memiliki stabilitas yang tinggi terhadap β-laktamase baik penisilase maupun sefalosporinase yang dihasilkan bakteri gram positif dan gram negatif. Cefadroxil diindikasikan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif terhadap cefadroxil antara lain: infeksi saluran pernafasan bawah (pneumonia), infeksi kulit dan struktur kulit, infeksi tulang dan sendi, infeksi intraabdominal, infeksi saluran kemih dan meningitis.
B.     Asuhan Keperawatan Pada Pasien Fraktur
1.      Pengkajian
a.       Identitas Pasien
Nama                                       :
Usia                                         : 56 tahun
Jenis kelamin                           :
Pendidikan                              :
Pekerjaan                                 :
Alamat                                                :
Diagnosa medis                       : Malunion fraktur sinistra 1/3 medial
b.      Riwayat Kesehatan
1)      Riwayat kesehatan sekarang
-       Provocative & Palliative         : sakit pada saat menggerakkan kakinya, nyeri tekan di daerah paha & istirahat dan tidak digerakkan serta pemberian obat analgetik.
-       Quality/ Quantity                    :nyeri seperti kesemutan dan hilang timbul.
-       Region/ Radiation                   : nyeri di daerah paha sebelah kiri.
-       Severity                                   : nyeri dirasakan pasien apabila pada daerah fraktur ditekan
-       Time                                        : pada saat terjadi fraktur dan saat digerakkan.
2)      Riwayat penyakit dahulu  : dari kasus yang didapat, bahwa tidak menyatakan pasien mempuyai riwayat penyakit.
3)      Riwayat penyakit keluarga: dari kasus yang didapat, bahwa tidak menyatakan keluarga pasien mempuyai riwayat penyakit yang sama.
c.       Pola-Pola Fungsi Kesehatan
1)      Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus fraktur akan timbul ketakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya.
Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak (Ignatavicius, Donna D,1995).
2)      Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia.Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.
3)      Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi.Sedangkan pada pola eliminasi urin dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah.Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak.
4)      Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien.Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur (Doengos. Marilynn E, 2002).
5)      Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 1995).
6)      Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap (Ignatavicius, Donna D, 1995).
7)      Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image) (Ignatavicius, Donna D, 1995).
8)      Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedangkan pada indera yang lain tidak timbul gangguan. Begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan.Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur (Ignatavicius, Donna D, 1995).
9)      Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien.Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya (Ignatavicius, Donna D, 1995).
10)  Pola Penanggulangan Stress
Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya.Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif.
11)  Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi.Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien.
d.      Pemeriksaan Fisik
1)      Gambaran Umum
a)      Kesadaran penderita: Composmentis.
b)      Kesakitan, keadaan penyakit: akut, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut.
c)      Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.
2)      Secara sistemik dari kepala sampai kelamin
a)      Sistem Integumen       : suhu sekitar daerah trauma meningkat, nyeri tekan.
b)      Kepala                         : Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada penonjolan, tidak ada nyeri kepala.
c)      Leher                           : Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan ada.
d)     Muka                           : Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema.
e)      Mata                            : Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak terjadi perdarahan)
f)       Telinga                        : Tidak ada lesi atau nyeri tekan.
g)      Hidung                        : Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
h)      Mulut dan Faring        : Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.
i)        Thoraks                       : Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
j)        Paru                             :
(1)   Inspeksi : tidak ada kelainan pada daerah paru, pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.
(2)   Palpasi : Pergerakan sama atau simetris
(3)   Perkusi : Suara ketok sonor, tak ada redup atau suara tambahan lainnya.
(4)   Auskultasi : Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi.
k)      Jantung                                    :
(1)   Inspeksi : Tidak tampak iktus jantung.
(2)   Palpasi : Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
(3)   Auskultasi : Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.
l)        Abdomen                                :
(1)   Inspeksi : Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
(2)   Palpasi : Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.
(3)   Perkusi : Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
(4)   Auskultasi : Peristaltik usus normal 20 kali/menit.
m)    Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB
2.      Prioritas Masalah
a.       Gangguan pertukaran gas
b.      Gangguan mobilitas fisik
c.       Gangguan integritas kulit
d.      Nyeri
e.       Kurang pengetahuan
f.       Risiko infeksi
g.      Risiko disfungsi neurovaskuler
3.      Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas Masalah
a.       DX 1   : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan diskontinuitas fragmen tulang à lepasnya lipid pada sumsum tulang à terabsorbsi masuk ke aliran darah à emboli à oklusi arteri paru à nekrosis jaringan paru à luas permukaan paru menurun à penurunan laju difusi àGangguan pertukaran gas.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan 3x24 jam pasien akan menunjukkan kebutuhan oksigenasi terpenuhi dengan kriteria klien tidak sesak nafas, tidak cyanosis analisa gas darah dalam batas normal.
Kriteria hasil :klien tidak sesak nafas, tidak cyanosis, analisa gas darah dalam batas normal.
Intervensi :
1)      Intruksikan/ bantu latihan napas dalam dan latihan batuk efektif
2)      Lakukan dan ajarkan perubahan posisi yang aman sesuai keadaan klien
3)      Kolaborasi pemberian obat antikoagulan (warvarin, heaprin) dan kortikosteroid sesuai indikasi
Rasional :
1)      Meningkatkan ventilasi alveolar dan perfusi
2)      Reposisi meningkatkan drainase secret dan menurunkan kongesti paru
3)      Mencegah terjadinya pembekuan darah pada keadaan trombo emboli. Kortikosteroid telah menunjukkan keberhasilan untuk mengatasi/ mencegah emboli lemak.
b.      DX 2   : Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan cedera sel à terapi restrictif àGangguan mobilitas fisik ditandai dengan terdapat nyeri pada daerah femur setiap kali digerakkan.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan 3x24 jam pasien dapat meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin dapat mempertahankan posisi fungsional meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh menunjukkan tekhnik yang mampu melakukan aktivitas.
Intervensi :
1)      Bantu latihan rentang gerak aktif pasif pada ekstremitas yang sakit maupun yang sehat sesuai keadaan klien
2)      Bantu dan dorong perawatan diri (kebersihan/ eliminasi sesuai keadaan klien)
3)      Ubah posisi secara periodik sesuai keadaan klien.
Rasional :
1)      Meningkatkan sirkulasi darah musculoskeletal, mempertahankan tonus otot, mempertahankan gerak sendi, mencegah kontraktur/ atrofi dan mencegah reabsorbsi kalsium karena imobilisasi
2)      Meningkatkan kemandirian klien dalam perawatan diri sesuai kondisi keterbatasan klien
3)      Menurunkan insiden komplikasi kulit dan pernapasan (dekubitus, atelektasis, peneumonia).
c.       DX 3   : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka terbuka àGangguan integritas kulit.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan 3x24 jam pasien menyatakan ketidaknyamanan hilang, menunjukkan perilaku tekhnik untuk mencegah kerusakan kulit/memudahkan penyembuhan sesuai indikasi, mencapai penyembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi terjadi.
Intervensi :
1)      Pertahankan tempat tidur yang nyaman dan aman (kering, bersih, bantalan bawah sikut dan tumit)
2)      Masase kulit terutama daerah penonjolan tulang dan area distal bebat/ gips
3)      Lindungi kulit dan gips pada daerah perianal
4)      Observasi kedaan kulit, penekan gips/ bebat terhadap insersi pin/ traksi.
Rasional :
1)      Menurunkan risiko kerusakan/ abrasi kulit yang lebih luas
2)      Meningkatkan sirkulasi perifer dan meningkatkan kelemasan kulit dan otot terhadap tekanan yang relative konstan pada imobilisasi
3)      Mencegah gangguan integritas kulit dan jaringan akibat kontaminasi fekal
4)      Menilai perkembangan masalah klien
d.      DX 4   : Nyeri berhubungan dengan degranulasi sel mast à pelepasan mediator kimia à nociceptor à medulla spinali à korteks serebri àNyeri
Tujuan : setelah dilakukan tindakan 3x24 jam pasien mengatakan nyeri berkurang atau hilang dengan menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam beraktivitas, tidur, istirahat dengan tepat, menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas trapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual.
Kriteria hasil : pasien terlihat santai setelah dilakuakn tindakan, mampu berpartisipasi dalam beraktivitas, tidur, istirahat dengan tepat, menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual
Intervensi :
1)      Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, bebat atau traksi
2)      Tinggikan posisi ekstremitas yang terkena
3)      Lakukan dan awasi latihan gerak aktif/pasif
4)      Anjurkan penggunaan tekhnik manajemen nyeri (latihan napas dalam, imajinasi visual, aktivitas personal)
5)      Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi.
Rasional :
1)      Mengurangi nyeri dan mencegah malformasi
2)      Meningkatkan aliran balik vena, mengurangi edema/ nyeri
3)      Mempertahankan kekuatan otot dan meningktkan sirkulasi vaskuler
4)      Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, meningkatkan kontrol terhadap nyeri yang mungkin berlangsung lama
5)      Menurunkan nyeri melalui mekanisme penghambatan rangsang nyeri, baik secara sentral maupun perifer.
e.       DX 5   : Kurang pengetahuan berhubungan dengan perubahan staus kesehatan à kurang informasi àKurang pengetahuan.
Tujuan : aetelah dilakukan tidakan 3x24 jam pasien akan menunjukkan pengetahuan meningkat dengan kriteria klien mengerti dan memahami tentang penyakitnya.
Kriteria hasil : mengerti dan memahami tentang penyakitnya
Intervensi :
1)      Kaji kesiapan klien mengikuti program pembelajaran
2)      Diskusikan metode mobilitas dan ambulasi sesuai program terapi fisik
3)      Ajarkan tanda/ gejala klinis yang memerlukan evaluasi medic (nyeri berat, demam, perubahan sensasi kulit distal cedera)
4)      Persiapkan klien untuk mengikuti terapi pembedahan bila diperlukan.
Rasional :
1)      Efektivitas proses pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental klien untuk mengikuti program pembelajaran
2)      Meningktkan partisipasi dan kemandirian klien dalam perencanaan dan pelaksanaan program terapi fisik
3)      Meningkatkan kewaspadaan klien untuk mengenali tanda/ gejala dini yang memerlukan intervensi lebih lanjut
4)      Upaya pembedahan mungkin diperlukan untuk mengatasi masalah sesuai kondisi klien.
f.       DX 6   : Risiko infeksi berhubungan dengan luka terbuka à port dè entri kuman àRisiko infeksi.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan 3x24 jam pasien mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas drainase purulen atau eritema dan demam.
Intervensi :
1)      Lakukan perawatan pin steril dan perawatan luka sesuai protocol
2)      Ajarkan klien untuk mempertahankan sterilisasi insersi pin
3)      Kolaborasi pemberian antibiotika dan toksoid tetanus sesuai indikasi
4)      Analisa hasil pemeriksaan laboratorium (hitung darah lengkap).

Rasional :
1)      Mencegah infeksi sekunder dan mempercepat penyembuhan luka
2)      Meminimalkan kontaminasi
3)      Antibiotika spektrum luas atau spesifik dapat digunakan secara profilaksis, mencegah atau mengatasi infeksi. Toksoid tetanus untuk mencegah infeksi tetanus
4)      Leukosit biasanya terjadi pada proses infeksi, anemia dan peningkatan LED dapat terjadi pada osteomielitis kultur untuk mengidentifikasi organism penyebab infeksi
g.      DX 7   : Risiko disfungsi neurovaskuler berhubungan dengan reaksi peradangan à edema à penekanan pada jaringan vaskuler à penurunan aliran darah àRisiko disfungsi neurovaskuler.
Tujuan             : setelah dilakukan tindakan 3x24 jam pasien akan menunjukkan fungsi neurovaskuler baik dengan kriteria akral hangat, tidak pucat dan syanosis, bisa bergerak secara aktif.
Kriteria hasil : akral hangat, tidak pucat dan cyanosis, bisa bergerak secara aktif

Intervensi :
1)      Dorong klien untuk secara rutin melakukan latihan menggerakkan jari/ sendi distal cedera
2)      Hindarkan retriksi sirkulasi akibat tekanan bebat/ spalk yang terlalu ketat
3)      Pertahankan letak tinggi ekstremitas yang cedera kecuali ada kontraindikasi adanya sindroma kompartemen
4)      Berikan obat antikoagulan (warfarin) bila diperlukan
Rasional :
1)      Meningkatkan sirkulasi darah dan mencegah kekakuan sendi
2)      Mencegah stasis vena dan sebagai petunjuk perlunya penyesuaian keketatan bebat/ spalk
3)      Meningkatkan drainase vena dan menurunkan edema kecuali pada adanya keadaan hambatan aliran arteri yang menyebabkan penurunan perfusi
4)      Mungkin diberikan sebagai upaya profilaktik untuk menurunkan thrombus vena.


DAFTAR PUSTAKA

(Brunner and Suddart, hal 218. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Edisi 8 vol 1. Jakarta : EGC).

No comments:

Post a Comment