ASUHAN
KEPERAWATAN PADA PSIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM MUSCULOSCELETAL : FRAKTUR
Oleh
Ns. Nunung
Nurhayati, S. Kep., M. Kep.
A.
Laporan
Pendahuluan Fraktur
1. Definisi
Fraktur
atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang
rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000). Rusaknya
kontinuitas tulang ini dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot,
kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang / osteoporosis (Anonim,
2011).
2. Jenis-Jenis
Fraktur
a. Fraktur
komplit: garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua
korteks tulang.
b. Fraktur
tidak komplit: garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang.
c. Fraktur
terbuka: bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan udara
luar atau permukaan kulit.
d. Fraktur
tertutup: bilamana tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan udara luar
atau permukaan kulit (Rahmad, 1996).
3. Etiologi
Penyebab
fraktur adalah trauma yang mengenai tulang, dimana trauma tersebut kekuatannya
melebihi kekuatan tulang, dan mayoritas fraktur akibat kecelakaan lalu
lintas.Trauma-trauma lain adalah jatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja,
cidera olah raga.Trauma bisa terjadi secara langsung dan tidak langsung.
Dikatakan langsung apabila terjadi benturan pada tulang dan mengakibatkan
fraktur di tempat itu, dan secara tidak langsung apabila titik tumpu benturan
dengan terjadinya fraktur berjauhan (Rahmad, 1996 ).
Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi
tiga yaitu :
a.
Cedera
traumatik
Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :
1) Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga
tulang pata secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang
dan kerusakan pada kulit diatasnya.
2)
Cedera
tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan,
misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula.
3)
Fraktur
yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat.
b.
Fraktur
Patologik
Dalam hal ini kerusakan
tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan
fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut :
1) Tumor
tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan
progresif.
2) Infeksi
seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat
timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri.
3) Rakhitis
: suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang
mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan oleh defisiensi
diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau
oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
c.
Secara spontan
Disebabkan oleh stress tulang yang
terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas
dikemiliteran.
4. Patofisiologi
Tulang yang mengalami fraktur
biasanya diikuti kerusakan jaringan disekitarnya, seperti di ligamen, otot
tendon, persyarafan dan pembuluh darah, oleh karena itu pada kasus fraktur
harus ditangani cepat, dan perlu dilakukan tindakan operasi.
Tanda dan Gejala :
a. Nyeri
hebat ditempat fraktur
b.
Tak mampu menggerakkan
ekstremitas bawah
c.
Diikuti tanda gejala fraktur
secara umum, seperti : fungsi berubah, bengkak, sepsis pada fraktur terbuka dan
deformitas
6.
Klasifikasi
Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi
tetapi untuk alasanyang praktis , dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:
a.
Berdasarkan sifat fraktur (luka
yang ditimbulkan) :
1)
Faktur Tertutup (Closed), bila
tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga
fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
2)
Fraktur Terbuka
(Open/Compound), bila terdapathubungan antara hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
b.
Berdasarkan komplit atau
ketidakklomplitan fraktur :
1)
Fraktur Komplit, bila garis
patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang
seperti terlihatpada foto.
2) Fraktur
Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti:
a) Hair
Line Fraktur (patah retidak rambut)
b) Buckle
atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi
tulang spongiosa di bawahnya.
c) Green
Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang
terjadi pada tulang panjang.
c. Berdasarkan
bentuk garis patah dan hubbungannya dengan mekanisme trauma.
1) Fraktur
Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat
trauma angulasi atau langsung.
2) Fraktur
Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang
dan meruakan akibat trauma angulasi juga.
3) Fraktur
Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan
trauma rotasi.
4) Fraktur
Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong
tulang ke arah permukaan lain.
5) Fraktur
Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada
insersinya pada tulang.
d. Berdasarkan
jumlah garis patah
1) Fraktur
Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
2) Fraktur
Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
3) Fraktur
Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang
yang sama.
e. Berdasarkan
pergeseran fragmen tulang
1) Fraktur
Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap tetapi kedua fragmen tidak
bergeser dan periosteum masih utuh.
2) Fraktur
Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut
lokasi fragmen, terbagi atas:
a) Dislokasi
ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping).
b) Dislokasi
ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
c) Dislokasi
ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).
f. Berdasarkan
posisi frakur
Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian :
1) 1/3
proksimal
2) 1/3
medial
3) 1/3
distal
g. Fraktur
Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulangulang.
h. Fraktur
Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang. Pada
fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan
lunak sekitar trauma, yaitu:
1) Tingkat
0 : fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak sekitarnya.
2) Tingkat
1 : fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
3) Tingkat
2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan
pembengkakan.
4) Tingkat
3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan ancaman
sindroma kompartement.
7. Manifestasi
Klinik
a. Deformitas
b. Bengkak/edema
c. Echimosis
(Memar)
d. Spasme
otot
e. Nyeri
f. Kurang/hilang
sensasi
g. Krepitasi
h. Pergerakan
abnormal
i.
Rontgen abnormal
8. Proses
Penyembuhan Tulang
Tulang bisa beregenerasi sama
seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur merangsang tubuh untuk menyembuhkan
tulang yang patah dengan jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan
tulang.Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. Ada lima stadium
penyembuhan tulang, yaitu:
a. Stadium
Satu-Pembentukan Hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk
hematoma disekitar daerah fraktur.Sel-sel darah membentuk fibrin guna
melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan
fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 – 48 jam dan perdarahan berhenti sama
sekali.
b. Stadium
Dua-Proliferasi Seluler
Pada stadium ini terjadi
proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang berasal dari
periosteum,`endosteum, dan bone marrow yang telah mengalami trauma. Sel-sel
yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam
dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam
beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang
yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai,
tergantung frakturnya.
c. Stadium
Tiga-Pembentukan Kallus
Sel–sel yang berkembang memiliki
potensi yang kondrogenik dan osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel
itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi
oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi
sel-sel tulang yang mati.Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan
kartilago, membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal.
Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga
gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.
d. Stadium
Empat-Konsolidasi
Bila aktivitas osteoclast dan
osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi lamellar.Sistem ini
sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan
pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celahcelah yang
tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat
dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang
normal.
e. Stadium
Lima-Remodelling
Fraktur telah dijembatani oleh
suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan
kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang
terusmenerus. Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang
tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum
dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya.
9. Komplikasi
a. Komplikasi
Awal
1) Kerusakan
Arteri à Pecahnya arteri karena trauma bisa
ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal,
hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan
emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan
pembedahan.
2) Kompartement
Syndrom à Kompartement Syndrom merupakan
komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan
pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan
yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari
luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu kuat.
3) Fat
Embolism Syndrom à Fat Embolism Syndrom (FES) adalah
komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES
terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran
darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan
gangguan pernafasan, tachykardi, hypertensi, tachypnea, demam.
4) Infeksi
à
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini
biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan
bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
5) Avaskuler
Nekrosis à Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi
karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan
nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia.
6) Shock
à
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas
kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada
fraktur.
b. Komplikasi
Dalam Waktu Lama
1) Delayed
Union à Delayed Union merupakan kegagalan
fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk
menyambung. Ini disebabkan karena penurunan suplai darah ke tulang.
2) Nonunion
à
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan memproduksi sambungan
yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai dengan
adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu
atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.
3) Malunion
à
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat
kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan
pembedahan dan reimobilisasi yang baik.
10. Tes
Diagnostik
a. Pemeriksaan
Rontgen : menentukan lokasi/luasnya fraktur/luasnyatrauma, scan tulang,
temogram, scan CI: memperlihatkan fraktur juga dapat digunakan untuk
mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
b. Hitung
darah lengkap : HB mungkin meningkat/menurun.
c. Peningkatan
jumlal sop adalah respons stress normal setelah trauma.
d. Kreatinin
: traumaa otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal.
e. Profil
koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multiple,
atau cedera hati.
11. Diagnosis
a.
Anamnesis
Bila tidak ada riwayat trauma, berarti
fraktur patologis.Trauma harus diperinci kapan terjadinya, di mana terjadinya,
jenisnya, berat-ringan trauma, arah trauma, dan posisi pasien atau ekstremitas
yang bersangkutan (mekanisme trauma). Jangan lupa untuk meneliti kembali trauma
di tempat lain secara sistematik dari kepala, muka, leher, dada, dan perut
(Mansjoer, 2000).
b.
Pemeriksaan Umum
Dicari kemungkinan komplikasi umum seperti
syok pada fraktur multipel, fraktur pelvis, fraktur terbuka, tanda-tanda sepsis
pada fraktur terbuka yang mengalami infeksi (Mansjoer, 2000).
c.
Pemeriksaan Fisik
Menurut Rusdijas (2007), pemeriksaan fisik
yang dilakukan untuk fraktur adalah:
1)
Look (inspeksi): bengkak,
deformitas, kelainan bentuk.
2)
Feel/palpasi: nyeri tekan,
lokal pada tempat fraktur.
3)
Movement/gerakan: gerakan aktif
sakit, gerakan pasif sakit krepitasi.
d.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang penting untuk
dilakukan adalah “pencitraan” menggunakan sinar Rontgen (X-ray) untuk
mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang, oleh karena itu
minimal diperlukan 2 proyeksi yaitu antero posterior (AP) atau AP lateral.
Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) atau indikasi
untuk memperlihatkan patologi yang dicari, karena adanya superposisi.Untuk
fraktur baru indikasi X-ray adalah untuk melihat jenis dan kedudukan fraktur
dan karenanya perlu tampak seluruh bagian tulang (kedua ujung persendian).
12. Penatalaksanaan Medik
Tujuan pengobatan fraktur adalah untuk
menempatkan ujung-ujung dari patah tulang supaya satu sama lain saling
berdekatan, selain itu menjaga agar tulang tetap menempel sebagaimana mestinya.
Proses penyembuhan memerlukan waktu minimal 4 minggu, tetapi pada usia lanjut
biasanya memerlukan waktu yang lebih lama. Setelah sembuh, tulang biasanya kuat
dan kembali berfungsi (Corwin, 2010).
Penatalaksanaan fraktur telah banyak
mengalami perubahan dalam waktu sepuluh tahun terakhir ini.Traksi dan spica
casting atau cast bracing mempunyai banyak kerugian karena waktu
berbaring lebih lama, meski pun merupakan penatalaksanaan non-invasif pilihan
untuk anak-anak. Oleh karena itu tindakan ini banyak dilakukan pada orang
dewasa (Mansjoer, 2000).
a.
Bila keadaan penderita stabil
dan luka telah diatasi, fraktur dapat dimobilisasi dengan salah satu cara
dibawah ini:
1)
Traksi
Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan
berat atau alat lain untuk menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan
otot. Tujuan traksi adalah untuk menangani fraktur, dislokasi atau spasme otot
dalam usaha untuk memperbaiki deformitas dan mempercepat penyembuhan.Traksi
menggunakan beban untuk menahan anggota gerak pada tempatnya.Tapi sekarang
sudah jarang digunakan. Traksi longitudinal yang memadai diperlukan selama 24
jam untuk mengatasi spasme otot dan mencegah pemendekan, dan fragmen
harus ditopang di posterior untuk mencegah pelengkungan. Traksi pada anak-anak
dengan fraktur femur harus kurang dari 12 kg, jika penderita yang gemuk
memerlukan beban yang lebih besar.
2)
Fiksasi Interna
Fiksasi interna dilakukan dengan pembedahan
untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan
tulang.Fiksasi interna merupakan pengobatan terbaik untuk patah tulang pinggul
dan patah tulang disertai komplikasi (Djuwantoro, 1997).
3)
Pembidaian
Pembidaian adalah suatu cara pertolongan
pertama pada cedera/ trauma sistem muskuloskeletal untuk mengistirahatkan
(immobilisasi) bagian tubuh kita yang mengalami cedera dengan menggunakan suatu
alat yaitu benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang (Anonim,
2010).
4)
Pemasangan Gips atau Operasi
Dengan Orif
Gips adalah suatu bubuk campuran yang
digunakan untuk membungkus secara keras daerah yang mengalami patah tulang.
Pemasangan gips bertujuan untuk menyatukan kedua bagian tulang yang patah agar
tak bergerak sehingga dapat menyatu dan fungsinya pulih kembali dengan cara
mengimobilisasi tulang yang patah tersebut (Anonim, 2010).
5)
Penyembuhan Fraktur
Penyembuhan fraktur dibantu oleh pembebanan
fisiologis pada tulang , sehingga dianjurkan untuk melakukan aktifitas otot dan
penahanan beban secara lebih awal. Tujuan ini tercakup dalam tiga keputusan
yang sederhana : reduksi, mempertahankan dan lakukan latihan.
b.
Tinjauan Obat
1)
Ceftriaxon
Cefriaxon adalah antibiotik sefalosporin
generasi ketiga yang memiliki aktivitas bakterisidal yang luas dengan cara
menghambat sintesis dinding sel, dan mempunyai masa kerja yang panjang. Secara in
vitro memiliki aktivitas luas terhadap bakteri gram positif dan gram
negatif, memiliki stabilitas yang tinggi terhadap β-laktamase baik penisilase
maupun sefalosporinase yang dihasilkan bakteri gram positif dan gram negatif.
Cefriaxon diindikasikan untuk mengobati
infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang sensitif terhadap cefriaxon antara
lain: infeksi saluran pernafasan bawah (pneumonia), infeksi kulit dan struktur
kulit, infeksi tulang dan sendi, infeksi intraabdominal, infeksi saluran kemih
dan meningitis (Mc Evoy, 2004).
2)
Ketorolak
Ketorolak adalah salah satu dari obat anti
inflamasi non steroid (NSAID), yang biasa digunakan untuk analgesik,
antipiretik dan anti inflamasi.Obat ini menghambat enzim siklooksigenase
sehingga konversi asam arakidonat menjadi PG2 terganggu.Ketorolak merupakan
penghambat siklooksigenase yang non selektif. Ketorolak akan berinteraksi bila
diberikan bersamaan dengan warfarin yang dapat menyebabkan pendarahan, ACE
inhibitor dapat menyebabkan semakin tingginya resiko gagal ginjal, diuretik
dapat berkurang efeknya (ISFI, 2008).
3)
Ranitidin
Ranitidin merupakan antagonis histamin
reseptor H2
(antagonis H2) menghambat kerja histamin pada semua
reseptor H2
yang penggunaan klinisnya ialah menghambat sekresi asam lambung,
dengan menghambat secara kompetitif ikatan histamin dengan reeseptor H2, zat
ini mengurangi konsentrasi cAMP intraseluler sehingga sekresi asam lambung juga
dihambat (Mycek, 2001).
4)
Paracetamol
Parasetamol merupakan metabolit fenacetin
yang berkhasiat sebagai analgetik dan antipiretik tanpa mempengaruhi SSP atau
menurunkan kesadaran serta tidak menyebabkan ketagihan.Parasetamol
diindikasikan untuk pengobatan demam (selesma, pilek), dan nyeri ringan hingga
sedang.Parasetamol tidak diberikan kepada pasien yang mengalami kerusakan
fungsi hati dan ginjal serta dengan ketergantungan akohol (ISFI, 2008). Efek
samping yang timbul akibat penggunaan parasetamol antara lain, reaksi
hipersensitifitas, ruam kulit dan kelainan darah, kerusakan hati. Dalam keadaan
overdosis, mual, muntah dan anoreksia.
5)
Cefadroxil
Cefadroxil adalah antibiotik sefalosporin
generasi pertama yang memiliki aktivitas bakterisidal yang luas dengan cara
menghambat sintesis dinding sel, dan mempunyai masa kerja yang panjang. Secara in
vitro memiliki aktivitas luas terhadap bakteri gram positif dan gram
negatif, memiliki stabilitas yang tinggi terhadap β-laktamase baik penisilase
maupun sefalosporinase yang dihasilkan bakteri gram positif dan gram negatif.
Cefadroxil diindikasikan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri
yang sensitif terhadap cefadroxil antara lain: infeksi saluran pernafasan bawah
(pneumonia), infeksi kulit dan struktur kulit, infeksi tulang dan sendi,
infeksi intraabdominal, infeksi saluran kemih dan meningitis.
B.
Asuhan
Keperawatan Pada Pasien Fraktur
1. Pengkajian
a. Identitas
Pasien
Nama :
Usia :
56 tahun
Jenis kelamin :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Alamat :
Diagnosa medis : Malunion fraktur sinistra 1/3
medial
b. Riwayat
Kesehatan
1) Riwayat
kesehatan sekarang
-
Provocative & Palliative : sakit pada saat menggerakkan kakinya,
nyeri tekan di daerah paha & istirahat dan tidak digerakkan serta pemberian
obat analgetik.
-
Quality/ Quantity :nyeri seperti kesemutan dan
hilang timbul.
-
Region/ Radiation : nyeri di daerah paha
sebelah kiri.
-
Severity : nyeri dirasakan pasien apabila
pada daerah fraktur ditekan
-
Time :
pada saat terjadi fraktur dan saat digerakkan.
2)
Riwayat penyakit dahulu : dari kasus yang didapat, bahwa tidak
menyatakan pasien mempuyai riwayat penyakit.
3)
Riwayat penyakit keluarga: dari
kasus yang didapat, bahwa tidak menyatakan keluarga pasien mempuyai riwayat
penyakit yang sama.
c.
Pola-Pola Fungsi Kesehatan
1)
Pola Persepsi dan Tata Laksana
Hidup Sehat
Pada kasus fraktur akan timbul ketakutan
akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan
kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya.
Selain itu, pengkajian juga meliputi
kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme
kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah
klien melakukan olahraga atau tidak (Ignatavicius, Donna D,1995).
2)
Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi
nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein,
vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap
pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal
dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium
atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor
predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia.Selain itu juga
obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.
3)
Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada
gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi,
konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi.Sedangkan pada pola
eliminasi urin dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah.Pada
kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak.
4)
Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri,
keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur
klien.Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana
lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur
(Doengos. Marilynn E, 2002).
5)
Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak,
maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu
banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk
aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan
beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain (Ignatavicius,
Donna D, 1995).
6)
Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga
dan dalam masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap (Ignatavicius,
Donna D, 1995).
7)
Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu
timbul akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk
melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah
(gangguan body image) (Ignatavicius, Donna D, 1995).
8)
Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang
terutama pada bagian distal fraktur, sedangkan pada indera yang lain tidak
timbul gangguan. Begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan.Selain
itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur (Ignatavicius, Donna D, 1995).
9)
Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak
bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan
keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien.Selain itu juga, perlu
dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya
(Ignatavicius, Donna D, 1995).
10) Pola Penanggulangan Stress
Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang
keadaan dirinya, yaitu ketakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi
tubuhnya.Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif.
11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan
kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi.Hal ini bisa
disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien.
d.
Pemeriksaan Fisik
1)
Gambaran Umum
a)
Kesadaran penderita:
Composmentis.
b)
Kesakitan, keadaan penyakit:
akut, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut.
c)
Tanda-tanda vital tidak normal
karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.
2)
Secara sistemik dari kepala
sampai kelamin
a)
Sistem Integumen : suhu sekitar daerah trauma meningkat,
nyeri tekan.
b)
Kepala : Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik,
simetris, tidak ada penonjolan, tidak ada nyeri kepala.
c)
Leher : Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak
ada penonjolan, reflek menelan ada.
d)
Muka : Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain
tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema.
e)
Mata : Tidak ada gangguan seperti konjungtiva
tidak anemis (karena tidak terjadi perdarahan)
f)
Telinga : Tidak ada lesi atau nyeri tekan.
g)
Hidung : Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan
cuping hidung.
h)
Mulut dan Faring : Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak
terjadi perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.
i)
Thoraks : Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan
dada simetris.
j)
Paru :
(1)
Inspeksi : tidak ada kelainan
pada daerah paru, pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada
riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.
(2)
Palpasi : Pergerakan sama atau
simetris
(3)
Perkusi : Suara ketok sonor,
tak ada redup atau suara tambahan lainnya.
(4)
Auskultasi : Suara nafas
normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan lainnya seperti stridor dan
ronchi.
k)
Jantung :
(1)
Inspeksi : Tidak tampak iktus
jantung.
(2)
Palpasi : Nadi meningkat, iktus
tidak teraba.
(3)
Auskultasi : Suara S1 dan S2
tunggal, tak ada mur-mur.
l)
Abdomen :
(1)
Inspeksi : Bentuk datar,
simetris, tidak ada hernia.
(2)
Palpasi : Tugor baik, tidak ada
defands muskuler, hepar tidak teraba.
(3)
Perkusi : Suara thympani, ada
pantulan gelombang cairan.
(4)
Auskultasi : Peristaltik usus
normal 20 kali/menit.
m)
Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada
kesulitan BAB
2.
Prioritas Masalah
a.
Gangguan pertukaran gas
b.
Gangguan mobilitas fisik
c.
Gangguan integritas kulit
d.
Nyeri
e.
Kurang pengetahuan
f.
Risiko infeksi
g.
Risiko disfungsi neurovaskuler
3.
Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan Prioritas Masalah
a.
DX 1 : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan diskontinuitas
fragmen tulang à lepasnya lipid pada sumsum tulang à terabsorbsi masuk ke aliran darah à emboli à
oklusi arteri paru à
nekrosis jaringan paru à luas
permukaan paru menurun à
penurunan laju difusi àGangguan pertukaran gas.
Tujuan : setelah dilakukan
tindakan 3x24 jam pasien akan menunjukkan kebutuhan oksigenasi terpenuhi dengan
kriteria klien tidak sesak nafas, tidak cyanosis analisa gas darah dalam batas
normal.
Kriteria hasil :klien tidak sesak nafas, tidak cyanosis, analisa gas
darah dalam batas normal.
Intervensi :
1)
Intruksikan/ bantu latihan
napas dalam dan latihan batuk efektif
2)
Lakukan dan ajarkan perubahan posisi
yang aman sesuai keadaan klien
3)
Kolaborasi pemberian obat
antikoagulan (warvarin, heaprin) dan kortikosteroid sesuai indikasi
Rasional :
1)
Meningkatkan ventilasi alveolar
dan perfusi
2)
Reposisi meningkatkan drainase
secret dan menurunkan kongesti paru
3)
Mencegah terjadinya pembekuan
darah pada keadaan trombo emboli. Kortikosteroid telah menunjukkan keberhasilan
untuk mengatasi/ mencegah emboli lemak.
b.
DX 2 : Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan cedera sel à terapi restrictif àGangguan mobilitas fisik ditandai
dengan terdapat nyeri pada daerah femur setiap kali digerakkan.
Tujuan : setelah dilakukan
tindakan 3x24 jam pasien dapat meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada
tingkat paling tinggi yang mungkin dapat mempertahankan posisi fungsional
meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh
menunjukkan tekhnik yang mampu melakukan aktivitas.
Intervensi :
1)
Bantu latihan rentang gerak
aktif pasif pada ekstremitas yang sakit maupun yang sehat sesuai keadaan klien
2)
Bantu dan dorong perawatan diri
(kebersihan/ eliminasi sesuai keadaan klien)
3)
Ubah posisi secara periodik
sesuai keadaan klien.
Rasional :
1)
Meningkatkan sirkulasi darah
musculoskeletal, mempertahankan tonus otot, mempertahankan gerak sendi,
mencegah kontraktur/ atrofi dan mencegah reabsorbsi kalsium karena imobilisasi
2)
Meningkatkan kemandirian klien
dalam perawatan diri sesuai kondisi keterbatasan klien
3)
Menurunkan insiden komplikasi
kulit dan pernapasan (dekubitus, atelektasis, peneumonia).
c.
DX 3 : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan luka terbuka àGangguan integritas kulit.
Tujuan : setelah dilakukan
tindakan 3x24 jam pasien menyatakan ketidaknyamanan hilang, menunjukkan
perilaku tekhnik untuk mencegah kerusakan kulit/memudahkan penyembuhan sesuai
indikasi, mencapai penyembuhan luka sesuai waktu/penyembuhan lesi terjadi.
Intervensi :
1)
Pertahankan tempat tidur yang
nyaman dan aman (kering, bersih, bantalan bawah sikut dan tumit)
2)
Masase kulit terutama daerah
penonjolan tulang dan area distal bebat/ gips
3)
Lindungi kulit dan gips pada
daerah perianal
4)
Observasi kedaan kulit, penekan
gips/ bebat terhadap insersi pin/ traksi.
Rasional :
1)
Menurunkan risiko kerusakan/
abrasi kulit yang lebih luas
2)
Meningkatkan sirkulasi perifer
dan meningkatkan kelemasan kulit dan otot terhadap tekanan yang relative
konstan pada imobilisasi
3)
Mencegah gangguan integritas
kulit dan jaringan akibat kontaminasi fekal
4)
Menilai perkembangan masalah
klien
d.
DX 4 : Nyeri berhubungan dengan degranulasi sel mast à pelepasan mediator kimia à
nociceptor à medulla spinali à korteks serebri àNyeri
Tujuan : setelah dilakukan
tindakan 3x24 jam pasien mengatakan nyeri berkurang atau hilang dengan
menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam beraktivitas, tidur,
istirahat dengan tepat, menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan
aktivitas trapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual.
Kriteria hasil : pasien terlihat santai setelah dilakuakn tindakan,
mampu berpartisipasi dalam beraktivitas, tidur, istirahat dengan tepat,
menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai
indikasi untuk situasi individual
Intervensi :
1)
Pertahankan imobilisasi bagian
yang sakit dengan tirah baring, gips, bebat atau traksi
2)
Tinggikan posisi ekstremitas
yang terkena
3)
Lakukan dan awasi latihan gerak
aktif/pasif
4)
Anjurkan penggunaan tekhnik
manajemen nyeri (latihan napas dalam, imajinasi visual, aktivitas personal)
5)
Kolaborasi pemberian analgetik
sesuai indikasi.
Rasional :
1)
Mengurangi nyeri dan mencegah
malformasi
2)
Meningkatkan aliran balik vena,
mengurangi edema/ nyeri
3)
Mempertahankan kekuatan otot
dan meningktkan sirkulasi vaskuler
4)
Mengalihkan perhatian terhadap
nyeri, meningkatkan kontrol terhadap nyeri yang mungkin berlangsung lama
5)
Menurunkan nyeri melalui
mekanisme penghambatan rangsang nyeri, baik secara sentral maupun perifer.
e.
DX 5 : Kurang pengetahuan berhubungan dengan perubahan staus kesehatan à kurang informasi àKurang pengetahuan.
Tujuan : aetelah dilakukan
tidakan 3x24 jam pasien akan menunjukkan pengetahuan meningkat dengan kriteria
klien mengerti dan memahami tentang penyakitnya.
Kriteria hasil : mengerti dan memahami tentang penyakitnya
Intervensi :
1)
Kaji kesiapan klien mengikuti
program pembelajaran
2)
Diskusikan metode mobilitas dan
ambulasi sesuai program terapi fisik
3)
Ajarkan tanda/ gejala klinis
yang memerlukan evaluasi medic (nyeri berat, demam, perubahan sensasi kulit
distal cedera)
4)
Persiapkan klien untuk
mengikuti terapi pembedahan bila diperlukan.
Rasional :
1)
Efektivitas proses pembelajaran
dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental klien untuk mengikuti program
pembelajaran
2)
Meningktkan partisipasi dan
kemandirian klien dalam perencanaan dan pelaksanaan program terapi fisik
3)
Meningkatkan kewaspadaan klien
untuk mengenali tanda/ gejala dini yang memerlukan intervensi lebih lanjut
4)
Upaya pembedahan mungkin
diperlukan untuk mengatasi masalah sesuai kondisi klien.
f.
DX 6 : Risiko infeksi berhubungan dengan luka terbuka à port dè entri kuman àRisiko infeksi.
Tujuan : setelah dilakukan
tindakan 3x24 jam pasien mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas drainase
purulen atau eritema dan demam.
Intervensi :
1)
Lakukan perawatan pin steril
dan perawatan luka sesuai protocol
2)
Ajarkan klien untuk
mempertahankan sterilisasi insersi pin
3)
Kolaborasi pemberian
antibiotika dan toksoid tetanus sesuai indikasi
4)
Analisa hasil pemeriksaan
laboratorium (hitung darah lengkap).
Rasional :
1)
Mencegah infeksi sekunder dan
mempercepat penyembuhan luka
2)
Meminimalkan kontaminasi
3)
Antibiotika spektrum luas atau
spesifik dapat digunakan secara profilaksis, mencegah atau mengatasi infeksi.
Toksoid tetanus untuk mencegah infeksi tetanus
4)
Leukosit biasanya terjadi pada
proses infeksi, anemia dan peningkatan LED dapat terjadi pada osteomielitis
kultur untuk mengidentifikasi organism penyebab infeksi
g.
DX 7 : Risiko disfungsi neurovaskuler berhubungan dengan reaksi
peradangan à edema à penekanan pada jaringan vaskuler à penurunan aliran darah àRisiko disfungsi neurovaskuler.
Tujuan : setelah
dilakukan tindakan 3x24 jam pasien akan menunjukkan fungsi neurovaskuler baik
dengan kriteria akral hangat, tidak pucat dan syanosis, bisa bergerak secara
aktif.
Kriteria hasil : akral hangat, tidak pucat dan cyanosis, bisa
bergerak secara aktif
Intervensi :
1)
Dorong klien untuk secara rutin
melakukan latihan menggerakkan jari/ sendi distal cedera
2)
Hindarkan retriksi sirkulasi
akibat tekanan bebat/ spalk yang terlalu ketat
3)
Pertahankan letak tinggi
ekstremitas yang cedera kecuali ada kontraindikasi adanya sindroma kompartemen
4)
Berikan obat antikoagulan
(warfarin) bila diperlukan
Rasional :
1)
Meningkatkan sirkulasi darah
dan mencegah kekakuan sendi
2)
Mencegah stasis vena dan
sebagai petunjuk perlunya penyesuaian keketatan bebat/ spalk
3)
Meningkatkan drainase vena dan
menurunkan edema kecuali pada adanya keadaan hambatan aliran arteri yang
menyebabkan penurunan perfusi
4)
Mungkin diberikan sebagai upaya
profilaktik untuk menurunkan thrombus vena.
DAFTAR PUSTAKA
(Brunner
and Suddart, hal 218. 2001. Buku Ajar
Keperawatan Medical Bedah. Edisi 8 vol 1. Jakarta : EGC).
No comments:
Post a Comment